Gairah Ibu Kota

Terlahir sebagai bunga asuhan bulan dan matahari
Cantik belia pujaan insan reka ciptaan
Tersiar sampai poros bumi belahan
Sesiapa berlomba hendak meminangmu
Kharisma yang menawan sepanjang jaman
Bersijingkat melalui putaran waktu dan edisi

Tubuhmu seronok menyilaukan sisi pandang
Gairah basah malam yang kau tawarkan
Memabukkan dalam kepayang menyesatkan
Seperti bentuk kurva dan labirin
Hanya satu hal pantas kusebut :
“Kau sungguh terlalu…”

Terlalu mulus dan jenjang
Terlalu berliak-liuk tajam
Terlalu harum dan bersinar
Menggoyang dan memutar malam
Tarian keliaran gula-gula manja
Menawarkan nikmat tak usai
Memungut jeda napas berpagut
: :
Jelita terhuyung di bibir ranjang tuan fajar
Gincu dan pupurnya pudar luntur
Bersimbah peluh deras mengucur
Bau tubuhnya bercampur lumpur
Serupa Maria Zaitun ia pun tumpur

(Jakarta, 15 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Khayal Sunyi

Sedalam malam, sesanggup langit mengucap sunyi, demikianlah aku mencintaimu.

Malam hanya sepanjang malam.
Siang hanya sepanjang siang.
Tetapi sepanjang siang dan malam, bayang-bayangmu terus memanjang.
Memenuhi hari-hariku yang terbuat dari rindu.

Sekali waktu, aku ingin datang mengetuk jendela kamarmu.
Membisikkan cinta sebagai mimpi dan mengecup bibirmu sebagai puisi.
Lalu abadi sebagai sunyi dalam nadimu.

(Jakarta, 11 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Kadung Salah Terima

Jika engkau bicara marwah atas kaumku
Terjangkau kah perjuangannya di kepalamu
Bercerita kah engkau tentang air susu ibu yang kering
Bercerita kah engkau tentang bocah belia yang dipaksa tinggal sekolah

Kawin muda saja lah lepaskan sengsara emak dan bapak
Sekonyong-konyong lepas satu tanggung jawab mereka
Terjual ijon usianya sebagai ganti periuk nasi
Terbiasa buta mengenal cinta dan kesejatian
Kemiskinan norma atas kemerdekaan yang tak tuntas
Kadung salah terima

Bebas lepas tanpa kendali mengatur bahasa
Bebas lepas tanpa kendali mengatur busana
Bebas lepas tanpa kendali mengatur lakunya Bebas lepas tanpa kendali membentur susila
Bebas lepas tanpa kendali membentur hukum dan sekitarnya

Jujurkah yang bicara keseragaman
Satu sebangun adil merata
Tentang kepatutan
Tentang kesejahteraan
Tentang kecantikan
Tentang arisan dan kolega
Bertebaran di meja-meja perjamuan
Memoles peradaban di atas meja pertemuan
Melenggang elok perempuan fantastis!

Ah, celaka semua
Kadung salah terima
Lalu di mana mereka yang hendak dipersatukan?
Apalah, masih asik lagi mencari kutu
Kasak-kusuk membakar tipis-tipis daun telinga
Yang lainnya terjun bebas mengemis
Mengukur jalan perempuan pengais!
:
Minyak dan air sama mengalir
Tak sama mampir saat dilansir

(Jakarta, 06/01/2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Astungkara

: Nunung Noor El Niel

Baru saja rindu tumpah di dua bejana
Tak sempat menuangkan puisi athmara
Waktu tak pernah tuntas oleh batas
Harap hasrat ingin terus melekat
Menggenapkan remang gelisah jiwa
Melesapkan sesak gairah meruak
Tak pernah ada habisnya
Aku harus menunggunya kembali
Dari perkenan Dewata

(Jakarta, 04 Januari 2019)
— Enjoy your flight, Nyai —

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

| EPILOG UNTUK BUKU “PENGANTIN PUISI” OLEH NUNUNG |

Titip Rindu buat Ibu

Bu
Dulu kita biasa bercerita bersama
Menjelang larut malam
Tentang bagaimana rasanya jadi perempuan dewasa
Mengapa mereka jadi tampak begitu cantik?
Mengapa mereka jadi pandai mematut diri?
Bagaimana rasanya saat ia jatuh cinta kepada seorang pria?
Mengapa mereka tak bisa pindah ke lain hati?
Kemudian memutuskan akad hidup bahagia bersamanya

Dan Ibu
Kupandangi jelas wajahmu dari bawah runcing dagumu
siluet senja dan cahaya wanita terindah
Selalu saja menjelaskan tentang hal manis
Indah seperti taman bunga di surga.
Hingga aku sungguh lupa bertanya :
“Apakah cinta juga sanggup melukai?
Seperti apa rasa sakitnya?”

Dan ibu
Saat kau tinggalkanku di usia belia
Aku terbawa waktu ke alam kisah rindu
Pernak-pernik warna hidupku
Pernah ada dalam benakku dulu
Wanginya singgah di kalbu seperti ceritamu
Menemukan jodoh rupawan sama persisnya dongengmu
Merawat cinta yang kupunya
Tanpa sedikit pun isyarat celaka

Tahukah ibu
Kisahmu buntu dan rancu di titik itu
Tumbuhan yang kurawat itu kering lesu
Cinta tak lagi bersamaku
Aku terdiam kelu membisu
Ada detak yang nyaris tak berdenyut
Sakitnya sebagai teriris sembilu
Meleleh di atas pusaramu
Duuhh…Ibu…
Begini luka itu kau simpan dulu
Tak pernah engkau rasakan
Tak sedikit pun engkau katakan
Tapi aku menemukan…
Air matamu
Air mataku

(Jakarta, 03 Januari 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Senandung Rawa

Semburat jingga tahun lalu
Sudah lewat minta permisi kepadaku
Kata-kata pun tercekat di pangkal leher
Kuraba arah angin yang pernah membawaku melintasi tumpukan awan
Belum sempat dapat sendiri terbang

Apa aku baru terbangun dari mimpi
Ya, apa kabarmu tahun baruku?
Ada tangis bahagia sisa semalam tadi
Mewujud dalam asa setulus doa-doa
Tergenggam erat di antara cakarnya

Aku masih di sini, Lang
Asik bermain-main sendiri
Melukiskan tegapnya paruh dan sayapmu
Hadirkan jingga dalam puisi imaji
Lagi…

(Jakarta, 01 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |