Di Antara Dialog Dua Laki-Laki

Malam ini saya sungguh dibuat terkagum-kagum menyaksikan dua laki-laki genius dari bidang yang berbeda disiplin ilmu dan latar belakang membicarakan sastra, terutama puisi.

Bayangkan saja, yang satu seorang pakar di dunia computer science dan digital economy serta sangat memahami filsafat ilmu pengetahuan, dan yang lainnya seorang ahli antropologi dan filsafat, serta seorang rohaniawan. Mereka berdua sama-sama tertarik berkecimpung di dunia sastra, terutama puisi. Pembicaraan antar keduanya sungguh berkualitas dan seru. Aku pun asik mengamati, mengikutinya dengan decak kagum.

Romo membahas dan mengupas beberapa judul puisi milik seorang Riri Satria, mengkritik tapi tetap memberikan alasan yang logis serta masukannya dengan logika alasan yang tepat. Ternyata seorang Robert William Maartin alias Romo begitu fasih, paham dan luas pengetahuannya dalam memahami teori-teori ilmu sastra, memotretnya dari sisi filsafat

Begitupun dengan Riri Satria yang sudah tampak sangat tertarik dan semakin larut mendengarkan dan membahas dengan serius seksama pendapat Romo seputar karya-karya puisinya. Insya Allah Uda Riri akan meluncurkan buku puis terbarunya “Siluet, Senja, dan Jingga” pada tanggal 2 Agustus 2019 nanti di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Saya menyimak dan menangkap pembicaraan mereka malam tadi di Kafetaria XXI Taman Ismail Marzuki memang begitu sarat dengan ilmu dan berkualitas tentunya. Topik mereka pun melebar, tetapi masih terkait. Misalnya Romo juga membahas eksistensi diri, bagaimana mengapresiasi, dan sebagainya.

Sementara itu Uda Riri membahas kesamaan antara kode program komputer, persamaan matematika, dan puisi, yaitu menjelaskan sesuatu yang kompleks dengan simbol-simbol yang sederhana.

Lalu keduanya berdiskusi tentang teori, keterbatasan teori, asumsi, keterbatasan framework, grounded theory, dan seabrek istilah lainnya yang aku juga susah mencernanya, tetapi menarik untuk disimak.

Terima kasih Romo Robert William Maartin dan Uda Riri Satria atas diskusi dan pencerahan malam ini. Tak terasa, sudah 3 jam berlalu, dan jam 22.00 pun kami pulang.

#Salute 🌺

Jakarta, 22/07/2019

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Aku di Buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia

Terima kasih para editor dan kurator buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia”, bahagia menemukan namaku di buku ini.

“Apa dan Siapa Penyair Indonesia” atau disingkat ASPI adalah judul buku terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia yang diluncurkan pada tahun 2017. Buku setebal 676 halaman dengan ISBN 978-602-50502-0-6 ini diprakarsai oleh Rida K. Liamsi, dengan editor Maman S. Mahayana bersama Jimmy S Johansyah, Nana Sastrawan, Sihar Ramses Simatupang, dan Sofyan RH. Zaid. Sedangkan Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Rida K. Liamsi, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Hasan Aspahani bertindak selaku kurator. Buku ini memuat biografi singkat penyair Indonesia yang karya-karyanya dikenal melalui publikasi media massa dan antologi puisi sampai dengan tahun 2017, baik yang masih hidup maupun sudah tutup usia (Wikipedia)

Balut Luka

Puisiku menggelepar di atas luka purba
Berputar putar menyentuh prahara
Menyibak satu persatu selaput langit
Di antara jejak kaki-kaki bukit
Melintas gurat gambaran perih
Membentuk poros ketakutan diri
Buah keyakinan bertahta ngeri
Terlalu sulit dipungkiri
Mendulang cita bahagia semu
Terus berpura-pura kemayu
Seperti bercinta dengan hantu
Tak tampak sesiapa pun satu
Menyeretku terkubur waktu
:
Mungkinkah badai berlalu
Mendengar rapuh seruanku

(Jakarta, 20 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Satria

Satria pujaan
Bagaimana caranya aku
Menuntaskan rindu
Sementara setiap saat gelisah ini kian bertambah

Malam menggigit tulang
Waktu diam-diam telah datang
Mengunci hasrat yang semakin meronjat
Benakku beku memadat

Kekasih pujaan…
Rasakah engkau rinduku sekarat

(Jakarta, 19 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Rajawali Sejatiku

Sudahlah sayang…
Malam ini aku tersadar
Pada besar rasa bersalahku
Biarkan kucumbui tubuhmu
Dengan lidah-lidah puisiku
Kunikmati semua rasamu
Bersama gairah meraga dan doa semesta

Aku ingin kau menerimanya
Mengurai birahi dan nafas puisiku
Melilitkan pagutan rindu
Merintih terhimpit buai kasih
Meliukkan tubuh rembulan di atas peraduan
Meremas gemas
Menjerit lepas
Belum lagi ingin tuntas
:
Jangan lepaskan puisiku…
Aku nyaman direngkuhmu
Bawa aku terbang tinggi

(Jakarta, 17 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Opera Rajawali (2)

Riuh badai membelah samudera
Lelah ingin segera menepi di biduk senja
Kesadaran menuntunku pada hal yang pernah luput
Sekian lama tenggelam di pusaran waktu
Membawa pergi kisah hati tak menentu
Dua biduk karam terpisah gelombang
Bertolak belakang bertumbukan
Memutar sejurus arah tak beraturan
Terombang-ambing menunggu panduan
Rindu-rindu terkuburkan dalam isakan
Menuliskan pesan pilu di atas pasir
Cinta tak ingin kering di surut pantai

Puisi pun tersampaikanlah melalui angin
Ada sebuah lagu tua membuka langit
Menjelma kekuatan paling kudus
Kuat mendongkrak keterpurukan
Waktu mendamaikan kegamangan
Mengukuhkan sinergi dua jiwa beda
Bangkit menangkis badai celaka
Di gerbang dermaga cakrawala
Terbukalah sayap-sayap perisainya
Memeluk unggas mungil ringkih
Nyaris mati rindu dalam sekarat
:
Terbang tinggi sejauh tujuan
Memecah sunyi di langit buram
Ke atas surga paling bersih
Paling putih

(Jakarta, 12 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Hari Ini Tak Ada Puisi

Bergulung-gulung mega berarak hitam
Sepinggan doa lupa menyertai sarapan tadi
Tak disadari hari berjalan beberapa depa dari kira
Hampa menyelimuti sepanjang wajah kota
Lembab menyusup hingga ke beranda jiwa
Gerangan apakah belum ada sapa manja
Kekasih terlambat buatkan kopinya
Letih tertidur dilenakan prasangka buruk
Sisa percakapan makan malamnya

Betapakah engkau menimbang marah tanpa jeda
Sehingga keduanya asik menyimpan duga
Menanaknya hingga terendap seharian
Hangus sia-sia menyisakan sesalan
Kekasih tidak lena dalam tidurnya
Napas terakhirnya tertinggal di atas lampin
Tak ada belaian singgah membangunkannya
Membawa pergi puisi cinta yang belum tamat
Cinta telah abai berlumur curiga
Bunga terindah pun layu seketika

(Jakarta, 11 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Salahkan Anganku

Baru saja membuka pintu
Senyap lagi-lagi bimbang menyerbu
Entah, apa yang sedang kuburu
Duduk merenung menarik napas panjang
Perjalanan masih jauh di depan
Terawang kabur meraba tujuan
Andainya telinga-telinga jelas terpasang
Jeritanku terpasung sungsang
Terpaku dalam ruang angan
Banyak orang yang bernaung
Satu pun tak paham aku meraung
Istighfar lebih seperti air gunung
Kemudian maghrib membasuh peluhku
:
Aku sungguh butuh belaiMu…
Pantang patah asaku sungguh

(Jakarta, 09 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |