: Pengantin Puisiku
Kupandangi gambar wajah lelakiku
Garis senyuman sekaligus garis kesedihannya membayang di bibirmu
Menyapaku bersamaan
Ah, gundah dan pilu kita pun meratap
Inginku datang mendekap
Mampukah terhapus khilaf dari setiap lontaran maaf
Masa laluku belati tajam paling hitam
Setiap saat siap ditikam atau dirajam
Puisiku adalah nafas cintaku
Puisimu nafas bagi hidupku
Prasasti yang kuat terpatri
Bertahta di relung paling suci
Hingga saatku harus kembali pada Illahi
Seribu malaikat boleh turun bersaksi
Memuliakan cinta abadi dari
Sepasang pengantin puisi
:
“I love you, mempelaiku…”
(Jakarta, 28 Agustus 2019)