Biar Apa Adanya

Bolehkan lah aku jujur…
Bukan begitu seharusnya
Memandang bijak menggagas petuah
Biarkan musim berubah sesuai arah
Hujan buas gragas menderas
Menggilas pandang matahari
Kemarau telah menyedot habis air bumi
Semua tersusun masih di lini wajar
Menggilir waktunya masing-masing
Masih berputar dari porosnya
Di sanalah segala sudah diatur
Buat apa menghujat langit
Kau sendiri yang akan singit

(Jakarta, 29 Agustus 2019)

Belahan Cinta

: Pengantin Puisiku

Kupandangi gambar wajah lelakiku
Garis senyuman sekaligus garis kesedihannya membayang di bibirmu
Menyapaku bersamaan

Ah, gundah dan pilu kita pun meratap
Inginku datang mendekap
Mampukah terhapus khilaf dari setiap lontaran maaf
Masa laluku belati tajam paling hitam
Setiap saat siap ditikam atau dirajam

Puisiku adalah nafas cintaku
Puisimu nafas bagi hidupku
Prasasti yang kuat terpatri
Bertahta di relung paling suci
Hingga saatku harus kembali pada Illahi
Seribu malaikat boleh turun bersaksi
Memuliakan cinta abadi dari
Sepasang pengantin puisi
:
“I love you, mempelaiku…”

(Jakarta, 28 Agustus 2019)

Baca Puisi pada Ulang Tahun Perempuan-Perempuan Menulis (P2M)

Selamat ulang tahun pertama sahabat komunitas Perempuan-Perempuan Menulis (P2M). Semoga sukses selalu ke depan dan terus menghasilkan karya-karya yang dahsyat. Terima kasih Mbak Edief Wangi dan P2M yang mengundang semua sahabat perempuan penulis. Saya ikut baca puisi pada acara ini. Ini adalah sebuah puisi kisah perempuan ..

CATWALK
(Yoe Vita Soekotjo)

Koridornya berbeda, sama menawannya
Yang satu ndeso, lainnya metropolis
Perempuan berangkat pada kultur sosial beda
Melenggang santai dan gemulai
Kainnya seronok senada matahari
Menyapa ramah menebar senyum indah
Tinggalkan sesaat gundahnya di rumah
Menggenggam duri dan api dalam basmallah

Muncul dari balik rumpun galangan sawah
Lainnya datang dari balik selasar panggung
Sekedar ikhtiar buat tutupi kebutuhan
Tersadar tuntutan hidup butuh disiasati
Menjawab langitNya semua pasti
Seterusnya mengepal harap mimpi
Pawon wajib ngebul oleh asap nasi
Bukannya jet pribadi

Terlahir dari rahim yang diberkati
Perempuan adalah ibu sejati negeri
Bumi tetap basah oleh asah asuh asih
Air susunya mengaliri negeri Loh Jinawi
Mendekap gelisahmu dalam pelukan panjang
Jemari lentiknya membelai keangkuhan malam
Bibirnya meniup lembut rangkaian mantra
Dari tubuhnya tercium wangi bunga
Tak sadari wujud hadirnya adalah dewi

(Jakarta, 09 Juli 2019)

Kepingan Hati Merah Dadu

Ada saatnya perasaan jauh melantur
Mengganggu waktu ummat tertidur
Mengantarkan pikir kepada sendu
Habis waktu dimakan rindu
Lalu siapa dia menolak kasih melolong
Berhari menanti angin beritanya kosong
Kau pun siapa cemas sendiri menyiksa jiwa
Dimana ia sesat terdampar mampir
Sibuk betul membuat tafsir atas takdir
Kepada liku cinta saat tak lagi mengalir
Bukan salah kasih cinta peneduh
Patut jadi tertuduh

(Jakarta, 21 Agustus 2019)

Riuh Pagi

Hei yang berkacak pinggang itu
Jangan menghadangku dengan telunjuk pongahmu
Biar kudobrak seribu nurani tumpul dengan puisiku
Doa baik pun berputar-putar di atas kepala rumit
Engkau aku mereka dan kita cuma orang-orang sakit

Kalam kudus jatuh menetes embun saat subuh turun
Bulannya sudah kulumuri bumbu dan garam
Buat sarapan pagi saat matahari bertandang
Kucumbui bagian perutnya hingga kegelian
Menyeretnya kepada siang yang kepayahan

Pagi ini sungguh genit
Matanya merayu manja berkedap kedip
Tak lelahnya meski berkali disapu langit
Kokok si jantan lumpuh di tenggorokan
Liuk-liuk angin mendesir letup gairah
Tergelincir di ranum licin bilah bibir

(Jakarta, 16 Agustus 2019)

Selera Warisan

Para tetua satu-satu mengarah ke langit
Menghilang pergi tak kembali lupa pamit
Banyak anak menangis oleh seribu sebab
Misteri airmata dari setiap yang meratap
Senyum simpul tersembunyi di balik rencana
Menyadari hari tengah berduka
Tak boleh ada yang tertawa

Hari-hari kusut menyesak sejak kemalangan
Lainnya menyusun rencana kematangan
Saat senyum mulai sedikit terkembang
Di permukaan wajah layu bimbang
Menunggu kejutan datang terhidang
Sajian menu renjana di balik rencana
Jerat wasiat bumbu rahasia
Sop buntut pertikaian saudara

Lihatlah sekarang
Nyonya-nyonya dan tuan-tuan
Tampilannya wangi necis elegan
Duduk menghadap jamuan akbar
Mengisi kursi meja memutar
menebar senyum gahar liar
Tersisa juga lidah yang tak lapar

Masing-masing piring telah dibagikan
Siap disantap sama penasaran
Menunya tak sama mutu dan besaran
Aroma rasa menyimpang jauh
Mereka mulai saling tuduh
Sebagian puas lebar tertawa-tawa
Tak sedikit duka yang kecewa
Meninggalkan meja paling durjana
:
Hampa, porak poranda!

(Jakarta, 07 Agustus 2019)

Imamat

Kemarin dulu
Kau berceracau menantang api
Lalu hangus terbakar diterjang angin
Padam, menyisakan noktah bara menyala
Merambati rerumput kering kerontang
Sekarang saat semesta terjaga
Semua makhluk tetiba jadi mawas

Aku bukan Nawangwulan
Kau pun bukan Medussa
Cari apa saja yang mampu
Membuat raga dapat selamat
Kemana pun tempat sembunyi
Membuatmu aman dari dakwa
Tanggalkan kuasa bara dari mata
:
Pacu waktumu sebelum langit bedah!

(Jakarta, 03 Agustus 2019)

Saya di Peluncuran “Siluet, Senja, dan Jingga” Uda Riri

Congratulations! Selamat ya Dear Uda Riri Satria atas Peluncuran Buku Puisi dan Pameran Foto “Siluet, Senja, dan Jingga” di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (2 Agustus 2019). Puisi dan foto, dua kombinasi karya yang indah. Semoga lahir karya-karya spektakuler berikutnya dari Uda, baik di bidang sains, teknologi, puisi, fotografi, dan sebagainya. Selamat ya Uda..