Sejentik bulu matanya meredup
Lepas sehelai di atas bantal
Sekelumit tayang bayang kekasih
Melintas di balik kelambu biru
Ia mendengar konser hujan bersahutan
Gelisahnya berpacu digulung rindu
Menggedor dinding kehampaan
Dia mencari lagi puisinya yang hilang
Mungkin disembunyikan kelelawar
Di balik bekas gigitan manis buah ranum
Asik sendiri menghitung semut beriring
Lewat berbaris apik di muka radio tua
Kebetulan tengah siaran berharapan
Akankah ada kabar baik dibawa
“Permisi, numpang lewat…”
Itu saja sapanya, aduh, celaka!
Seketika nihil harapnya
Kuncup yang mekar merunduk pasi
Beringsut lagi di depan cermin
Menyapa lesu kepada minyak wangi
Gincu, pupur, pinsil alis dan celak mata
Tenggelam mematut tubuh dan rupa
Memulas seribu warna merona
Di atas wajah perempuan penjaga cinta
Sukma pesona dan gemulai irama
Meliukkan bokong dan pinggul
Bibir basahnya merekah menganga
Menantang geliat rindunya
:
Hujan pun turun semakin menderas!
(Jakarta, 16 Juni 2019)