Hei yang berkacak pinggang itu
Jangan menghadangku dengan telunjuk pongahmu
Biar kudobrak seribu nurani tumpul dengan puisiku
Doa baik pun berputar-putar di atas kepala rumit
Engkau aku mereka dan kita cuma orang-orang sakit
Kalam kudus jatuh menetes embun saat subuh turun
Bulannya sudah kulumuri bumbu dan garam
Buat sarapan pagi saat matahari bertandang
Kucumbui bagian perutnya hingga kegelian
Menyeretnya kepada siang yang kepayahan
Pagi ini sungguh genit
Matanya merayu manja berkedap kedip
Tak lelahnya meski berkali disapu langit
Kokok si jantan lumpuh di tenggorokan
Liuk-liuk angin mendesir letup gairah
Tergelincir di ranum licin bilah bibir
(Jakarta, 16 Agustus 2019)