Puisi dan Aku (Agus Sudarmadi)

Catatan Agus Sudarmadi tentang puisi

Tiga puluh lima tahun lalu, sekitar tahun 1984, bersama Yoevita Soekotjo, Eka B.P., Dicky Setiawan, dan kawan-kawan, kami adalah gerombolan penghamba dan penikmat kata-kata, dan kami besar bersama di Teater Alun 12.

Kami berkarya dan malang melintang dari satu pentas ke pentas lainnya. Pencapaian termegah kala itu adalah ketika kami bisa di pentas Taman Ismail Marzuki (TIM).

Luar biasa rasanya! Ini adalah sesuatu dan segalanya di zaman itu. Tampil di TIM menjadi tujuan dan kebanggaan utama para pemaion panggung.

Siang ini, sesuatu yang luar biasa terjadi buat saya, yaitu ketika diberi kesempatan untuk membaca satu puisi dari antologi puisi Yoevita yang bertajuk “Pengantin Puisi”. Yoevita adalah sahabat panggung dan kata-kata sejak 35 tahun yang lalu,

Puisi yang kubaca berjudul ROSA, yang bercerita tentang derita dan cinta sebuah pertemuan dan perpisahan. Mengingatkan cerita 35 tahun silam. Ah, adrenalin dan darah seniman muncul kembali, jika sering sering begini.

Sempat pada zaman itu, aku ingin mendaftar di IKJ, namun nasib membuatku terdampar di Fakultas Pertanian. Sang Penguasa Kehidupan menenggelamkan aku berkubang bekerja di bidang kepabeanan. Aku bolak-balik bertugas di bidang penagakkan hukum perbatasan, dan sekarang terbawa berkarya bidang teknologi informasi kepabeanan.

Ibaratnya kata-kata, kadang kisah kehidupanku tidak ada hubungan dan tak ada sambung-menyambung antara satu dan lainnya.

Namun laiknya kata-kata, kehidupan yang tak nyambung pun pasti mempunyai makna, karena kehidupan adalah puisi, berselimut rima, irama, dan birama. Kadang indah, kadang kacau, kadang riang, kadang bimbang, kadang senang, dan tak jarang jatuh terjengkang, penuh dinamika tanpa perlu ada sambungan.

Hidup dan puisi adalah perjalanan. Dia datang, berkumandang, pulang dan kemudian hilang.

Hari ini aku senang, dengan puisi aku ungkapkan.

(Jakarta, 29 Juni 2019)

— Tulisan asli terdapat pada halaman Facebook milik Agus Sudarmadi, saya edit seperlunya sebelum ditayang di sini. Terima kasih sahabatku. (Yoevita)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Epilog dari Nyai Nunung

EPILOG (untuk buku “Pengantin Puisi” Yoevita)
(Nunung Noor El Niel)

Saya mengenal Yoevita Soekotjo dari pertemanan di FB. Pertemanan itu membuat kami saling menyapa. Bahkan kami bercanda saling berkomentar. Apalagi setelah ia bergabung di grup Dapur Sastra Jakarta dan publikasikan karyanya di sana. Saya sering memberikan komentar- komentar mengenai penulisannya. Dari grup itu saya semakin kenal Yoevita yang selalu bersikap terbuka, jika karyanya dibicarakan di grup itu. Ia selalu menerima pendapat atau kritik dari siapa saja.

Pada beberapa kesempatan kegiatan Dapur Sastra Jakarta (DSJ), saya ke Jakarta, dan bertemu pertamakali dengannya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Pertemuan kami pun semakin akrab. Bahkan tidak jarang kami nongkrong bareng. Saya pun semakin mengenal pribadinya dengan baik. Apalagi pada beberapa kesempatan acara yang diselenggarakan DSJ di Bali dan juga di Padang, membuat kami lebih akrab lagi. Perjalanan-perajalanan panjang itu membuat kami lebih terbuka mengenai masalah-masalah pribadi, keluarga, anak dan apa saja yang berhubungan dengan persoalan perempuan. Tidak jarang juga mendiskusikan hasil karya kami masing- masing.

Yang membuat kami seperti senasib dan sepenanggungan adalah, karena kami sama-sama memiliki satu anak. Bagaimana kami harus tetap survive dalam kehidupan kami untuk tetap bisa mandiri. Namun pada dasarnya, kami sama-sama orang yang cukup keras dalam berprinsip. Kami hampir mempunyai pola yang sama dalam mengambil keputusan dan bertindak tapi tidak tertutup menerima pendapat, yang tentu saja dapat kami terima secara rasional.

Demikian pula halnya dengan kerja kreatif kami. Seperti yang saya katakan tadi di atas, dalam soal berkaya, ketika ia ingin mengekspresikan kemaharahannya di dalam karya, maka ia akan mengatakan hal itu apa adanya. Tetapi tentu saja tidak mengabaikan persoalan-persoalan seni sastra dalam karyanya. Sebuah pertanyaan panjang sempat tersimpan dalam benak dan perasaan saya, jika Yoevita mempublikasikan karyanya di statusnya atau di grup DSJ. Kapan ia mau mengumpulkan karya-karyanya itu kemudian diterbitkan. Sesekali saya mencoba menyinggung di inbox FB-nya secara pribadi, tetapi ia selalu menjawab santai. “Tenang sajalah, lihat saja nanti, pasti terbit” katanya selalu dengan canda dan tawa yang lepas.

Ternyata kemudian, Yoevita akhirnya mewujudkan apa yang menjadi pertanyaan saya itu, berkat dorongan beberapa teman dekat. Judul dari kumpulan puisinya itu membuat saya sedikit tertegun karena pemilihan diksinya begitu kuat: Pengantin Puisi. Saya pun diberi kehormatan untuk memberikan epilog buku kumpulan puisi itu. Ini tentu saja suatu surprise bukan saja buat saya tapi juga teman-teman dan pencinta sastra. Semoga, buku Pengantin Puisi ini bermanfaaat bagi kita semua, agar kreativitas kita juga ikut selalu terjaga.

Sekali lagi selamat untuk Yoevita.

— Nunung Noor El Niel, penyair tinggal di Bali, salah satu pengurus Dapur Sastra Jakarta.

 

| PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA |

Prolog dari Uda Riri

YOEVITA DAN PUISINYA
– Prolog untuk buku “Pengantin Puisi” Yoevita –

(Riri Satria)

Ketika Yoevita meminta saya untuk menuliskan prolog untuk buku puisinya yang pertama ini, saya mengatakan bahwa saya tidak akan mengulas puisi-puisi karyanya. Saya memilih untuk menuliskan pengantar untuk pembaca sebelum menikmati satu per satu puisi di buku ini. Ulasan tentang puisi Yoevita tentu lebih layak dilakukan oleh ahli sastra dan saya bukanlah ahlinya.

Saya mencoba untuk mengingat, kapan saya mengenal Yoevita untuk pertama kali? Melalui jejak digital akhirnya saya ingat, yaitu bulan Oktober 2013 melalui Facebook. Tetapi saat itu, interaksi kami di Facebook nyaris tidak ada, selain saling memberi “like” untuk posting masing-masing. Saya ingat, Yoevita rajin menulis puisi di Facebook dan beberapa puisinya dimuat pada beberapa media daring.

Melalui Facebook saya tahu saat itu Yoevita tinggal di Medan, aktif berteater dan berpuisi di Taman Budaya Sumatra Utara (TBSU) serta aktivitas menyanyi di berbagai acara. Interaksi atau tegur sapa saya dan Yoevita di Facebook baru terjadi bulan Agustus 2014. Saat itu Yoevita sudah pindah ke Jakarta.

Pada tanggal 22 Februari 2015, saya bertemu Yoevita untuk pertama kali di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat itu sambil ngopi santai sore hari di Warung Bagong, tempat berkumpul Dapur Sastra Jakarta (DSJ) yang sekarang sudah dibongkar, Yoevita banyak bercerita tentang kiprahnya di Medan, terutama kegiatan berteater dan bersastra (terutama puisi) di TBSU. Saya membiarkan Mbak Yoe (demikian saya memanggilnya saat itu) banyak bercerita. Lalu dia juga bercerita tentang makna puisi dalam hidupnya, dan keinginannya untuk memiliki sebuah buku puisi sendiri.

Jadi, buku puisi yang sedang kita baca saat ini adalah buku puisi Yoevita yang pertama, yang sudah dicita-citakan sejak lama, tepatnya awal tahun 2015. Empat tahun kemudian, baru terwujud. Mungkin ini dapat dikatakan sebagai “skripsi” bagi Yoevita untuk “diwisuda” sebagai penyair.

Namun sayang sekali, puisi-puisi tulisan Yoevita sebelum tahun 2015 banyak yang hilang, berbarengan dengan “hilangnya” akun Facebook milik Yoevita yang lama karena sesuatu hal tidak bisa dipergunakan lagi. Banyak sekali puisi ditulis di akun lama tersebut dan tidak ada backup-nya. Hanya ada beberapa puisi yang masih “diselamatkan” karena ditulis di kertas serta yang pernah dimuat di media daring.

Pada awal tahun 2019 ini, Yoevita meminta bantuan saya untuk menelusuri jagat internet melalui search engine Google dan metode archive lainnya untuk melacak keberadaan puisi-puisinya yang ditulis sebelum tahun 2015. Hasilnya, tidak banyak yang bisa diperoleh. Sayang sekali. Padahal Yoevita sudah menulis puisi di Facebook sejak tahun 2011. Sementara itu, puisi yang dibuat sebelum tahun 2011 banyak ditulis di kertas dan buku catatan, hampir semuanya hilang karena beberapa kali pindah tempat tinggal di Medan. Baca lebih lanjut