Joko dan Bowo Putraku

Tolong matikan sentir teploknya, Nang.
Nanti gubug kita hangus terbakar
Pandai-pandai juga lah berhemat
Saat tertidur berjuta kepala suluk bermimpi
Segala makhluk tak lagi indahkan cahaya
Raga dan jiwanya telah bersenyawa
Melebur napasnya sederap napas semesta

Bulan mentereng bentang dipasang Tuhan
Bintang telah ditaburkan di langit pekat
Riasan dironce keharuman seronok
Ratu Malam bersolek molek
Bagai Nyai Ronggeng menggelar kenduri
Tetabuh hajat hiburan insan haus kelaparan

Malam ini menyisakan kemuliaan
Bersujud syukurlah hendaknya, Le!
Kangmas jadi imam, Adimas makmuman
Ciumlah perut bumi yang berlimpah berkah
Telah menitipkanmu di rahim ibu
Menjadikan putera ksatria pilih tanding
Melindungi utuh tanah air ibumu

Nak lanangku…
Tut Wuri Handayani
Jaga selalu salah laku dan pituturmu
Tembangkan lagu penawar badai
Gemah ripah loh jinawi
Tata tentram karta raharja

(Jakarta, 24 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Kamu Tidak Sendiri

Sore tadi di dalam mikrolet, seorang ibu paruh baya masuk dengan membawa kereta bayi reyot yang penuh dengan tumpukan barang bekas yang dibungkus plastik-plastik kresek.

Penampilannya nampak amat lusuh. Ibu itu terus saja mengoceh. Katanya, sejak tadi tidak ada satu pun pengemudi angkot atau mikrolet yang sudi membawanya. Mengomel terus menasehati entah siapa. Bahwa dirinya dulu adalah orang yang berkecukupan juga, sampai suatu saat keadaan berbalik bangkrut menghancurkan istana rumah tangganya dan keluarganya. Miris sekali!

Memang sih, setelah aku berusaha curi-curi pandang, mengamati penampilannya yang nyentrik dan tak jelas itu, ibu ini nyaris mirip dengan penampilan mantan lady rocker kita Mbak Renny Jayusman. Gelang aksesorisnya kusam, penuh dan bertumpuk di sepanjang lengannya. Cincin batunya juga terselip nyaris di semua jarinya yang coklat dan berkerut.

Sesekali ceracaunya diselingi bahasa Inggris yang lumayan juga tata bahasanya. Aku mulai bersahabat dengan keberadaannya tanpa sedikitpun lengah untuk terus waspada. Kuberanikan diri untuk berkomunikasi dengan dirinya, “Dari mana mau kemana, Bu?” Ibu itu menatap fokus ke arahku. Wajahnya tampak senang karena masih ada orang yang mau menyapanya.

Sama sekali tak nampak ciri kegilaan darinya. Mungkin dia hanyalah seorang tunawisma yang nomaden hidupnya. Tekanan hiduplah yang membuatnya stres dan terkatung-katung sendirian di jalan selama bertahun-tahun. Sama sekali dia bukan gila. Kitalah yang telah mengucilkannya, sehingga dia menjadi anti pati dan marah.

“Saya baru pulang berjualan, Bu, tapi bukan berjualan seperti pada umumnya. Saya mau kembali ke Pasar Minggu. Apa ibu tidak merasa jijik dan takut bicara sama saya?” Aku tertawa sambil membalasnya. “Ibu sejak tadi baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan mau melakukan penyerangan. Sejak tadi Ibu hanya terus bicara tanpa henti. Alasannya apa saya harus takut kepada ibu?”. Dia menjawabku lega “Terimakasih Ibu sudah mau memanusiakan saya”. Aku bingung dan tak ingin membahasnya lebih lanjut

Demikian selama perjalanan menuju pulang, Ibu itu terus saja bercerita panjang lebar. Hingga saat aku harus bersiap-siap untuk turun, kutitipkan kepadanya sedikit uang untuk keperluan makan siangnya. “Maaf ya, Bu, saya harus turun duluan di sini. Ibu baik-baiklah terus. Jangan putus asa. Oh ya, ini ada sedikit rejeki untuk Ibu beli makan siang nanti ya. Ongkosnya biar sama saya saja. Hati-hati ya, Bu”. Ibu itu pun menangis haru sambil mengucap syukur. Sama seperti aku, ikut berdoa dan bersyukur. Menyeret kakiku dan melanjutkan langkah kepulanganku ke rumah.

Meski begitu ibu tersebut tak pernah marah kepada Tuhan. Dia sadar kehidupan itu sama seperti roda pedati. Hanya di awalnya saja dia tak bisa menerima perihal kejatuhannya itu. Waktu lah yang telah menuntunnya jadi lebih natural dan pasrah.

Di atas langit masih ada langit. Di tengah kekurangan masih ada yang lebih berkekurangan lagi. Bahwasanya kita memang tidak sendiri.

(Jakarta, 18 Februari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Dahlia

Kemarin lalu dia masih bersamaku
Menghempaskan kepulan kisah sedih
Mereguk sepi dari bergelas ampas kopi
Tak tahan pada bayangan tak pasti
Akankah harap dan rindu henti di titik nol?
Wajahnya menghitam sedingin nisannya

Setiap hari duduk di simpang tatapan
Tekun memandang arloji dan penjuru jalan
Paruh usianya tergantung di tiang jemuran
Seseorang meremukkan impian
Yakinkan syak bakal tak datang
Jemput sekarang, tuhan
Selesaikan lah

(Jakarta, 17 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Jejak Puisi Pasir

Ombak beriak menengadah pasrah
Angin mendesis gairahnya basah
Langit berarak mendekatkan jarak
Siang pelahan menutup layarnya
Matahari mengecup batas laut dan udara
Berpelukan di hampar bias redup cahaya
Senja melingkari erat tubuh-tubuh rapat-rapat
Mendegupkan napas insan kesumat

Tembang daun nyiur silir-silir
Menyapu latar sepanjang bibir pesisir
Burung-burung manyar terbang rendah
Di depan laut pun bertaut kisah
Langit jingga merengkuh laut biru
Lebur dalam gradasi ungu
Jejak-jejak kaki pernah jadi puisi
Tertinggal abadi di situ
Terbilas buih di pantaimu

(Jakarta, 17 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Gagal Fokus

Bila tak mampu lagi untuk berdiri
Harusnya kau tak berhenti
Cari penyanggahmu tanpa keluh
Apa lagi menyeret bahu ibumu itu
Tameng rangkap melapis kedokmu
Angin bersiur meliput berita suka-suka

Aku melihat teramat jelas
Taring bunda si anak domba
Tersimpan apik di gelung rambutnya
Duet jetset meradang kompak di pentas
Sumbang menendang belalak pirsawan
Berduyun-duyun tinggalkan panggung

Aku mulai mual oleh gumoh
Sesak rasa menahan kencing
Mencari wadah buangan limbah di perut
Ada aroma susu basi ibu keladi
Di jejal cecap isapan putera mahkota
Muncrat-muncrat menodai kacamata
:
Penonton kecewa!!!

(Jakarta, 12 Februari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Melintas Senja

Warnanya pucat kuning muda
Disambangi mega-mega kelabu
Tidak begitu dengan sepasang prenjak
Yang berhasil menangkap cahaya merah saga
Biasan sekelompok kelopak sekar padma
Merekah di bawah langit petang

Senyum Dewi Kwan Im menebar cinta
Kepada jiwa-jiwa kasmaran
Saling merengkuh rapat-rapat
Sembunyi di balik mendung tipis-tipis
Menggulung gelisah keinginan purba
Berbisik lembut menautkan bilah-bilah bibir

Atas nama rindu dan hasrat berpeluh
Mengalirkan hangat buaian malam
Hempas berpuas-puas di pucuk sabit
Menunggu waktu merambah pagi
Kedalaman syukur yang dironjatkan
Menutup kesempurnaan
:
Kekasih…
Tinggallah lagi sesaat
Di luar hujan lebat sangat

(Jakarta, 07 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |