Sore tadi di dalam mikrolet, seorang ibu paruh baya masuk dengan membawa kereta bayi reyot yang penuh dengan tumpukan barang bekas yang dibungkus plastik-plastik kresek.
Penampilannya nampak amat lusuh. Ibu itu terus saja mengoceh. Katanya, sejak tadi tidak ada satu pun pengemudi angkot atau mikrolet yang sudi membawanya. Mengomel terus menasehati entah siapa. Bahwa dirinya dulu adalah orang yang berkecukupan juga, sampai suatu saat keadaan berbalik bangkrut menghancurkan istana rumah tangganya dan keluarganya. Miris sekali!
Memang sih, setelah aku berusaha curi-curi pandang, mengamati penampilannya yang nyentrik dan tak jelas itu, ibu ini nyaris mirip dengan penampilan mantan lady rocker kita Mbak Renny Jayusman. Gelang aksesorisnya kusam, penuh dan bertumpuk di sepanjang lengannya. Cincin batunya juga terselip nyaris di semua jarinya yang coklat dan berkerut.
Sesekali ceracaunya diselingi bahasa Inggris yang lumayan juga tata bahasanya. Aku mulai bersahabat dengan keberadaannya tanpa sedikitpun lengah untuk terus waspada. Kuberanikan diri untuk berkomunikasi dengan dirinya, “Dari mana mau kemana, Bu?” Ibu itu menatap fokus ke arahku. Wajahnya tampak senang karena masih ada orang yang mau menyapanya.
Sama sekali tak nampak ciri kegilaan darinya. Mungkin dia hanyalah seorang tunawisma yang nomaden hidupnya. Tekanan hiduplah yang membuatnya stres dan terkatung-katung sendirian di jalan selama bertahun-tahun. Sama sekali dia bukan gila. Kitalah yang telah mengucilkannya, sehingga dia menjadi anti pati dan marah.
“Saya baru pulang berjualan, Bu, tapi bukan berjualan seperti pada umumnya. Saya mau kembali ke Pasar Minggu. Apa ibu tidak merasa jijik dan takut bicara sama saya?” Aku tertawa sambil membalasnya. “Ibu sejak tadi baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda mencurigakan mau melakukan penyerangan. Sejak tadi Ibu hanya terus bicara tanpa henti. Alasannya apa saya harus takut kepada ibu?”. Dia menjawabku lega “Terimakasih Ibu sudah mau memanusiakan saya”. Aku bingung dan tak ingin membahasnya lebih lanjut
Demikian selama perjalanan menuju pulang, Ibu itu terus saja bercerita panjang lebar. Hingga saat aku harus bersiap-siap untuk turun, kutitipkan kepadanya sedikit uang untuk keperluan makan siangnya. “Maaf ya, Bu, saya harus turun duluan di sini. Ibu baik-baiklah terus. Jangan putus asa. Oh ya, ini ada sedikit rejeki untuk Ibu beli makan siang nanti ya. Ongkosnya biar sama saya saja. Hati-hati ya, Bu”. Ibu itu pun menangis haru sambil mengucap syukur. Sama seperti aku, ikut berdoa dan bersyukur. Menyeret kakiku dan melanjutkan langkah kepulanganku ke rumah.
Meski begitu ibu tersebut tak pernah marah kepada Tuhan. Dia sadar kehidupan itu sama seperti roda pedati. Hanya di awalnya saja dia tak bisa menerima perihal kejatuhannya itu. Waktu lah yang telah menuntunnya jadi lebih natural dan pasrah.
Di atas langit masih ada langit. Di tengah kekurangan masih ada yang lebih berkekurangan lagi. Bahwasanya kita memang tidak sendiri.
(Jakarta, 18 Februari 2019)
| KUMPULAN PUISI YOEVITA |
| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |