Maafkan Bila ‘Ku harus Jujur

Aku bersyukur
Berkali abai luluskan pintamu yang kabur
Beruntung tak banyak ucapku berhambur
Engkau telah keji meludahi janji
Aku tergugah dari mimpi
Sejauh perjalanan katamu sakral suci
Hanya untuk bertanya, “Bagaimana caranya tertawa?”
Ya, kau sadari juga akhirnya
Aku adalah mimpi terburukmu
Melati yang menghantui ruang sesalmu

Mengapa hanya bicara lukamu sendiri
Mendedah duka-cita pura-pura
Menepi di medan perhentian paling celaka
Mandi madu dusta semata
Bersamanya kau berhasil tertawa bahagia
Segera rapatkan pintu dan jendela

Siapa sibuk mengatur siasat
Terhapus sudah jejak riwayat
Tak kurutuki kisah yang tamat
Mana mungkin sempat
Dalam luka tersayat aku minggat
Seumur hidup pun tak akan kuingat

Kau sungguh lucu
Selalu masih saja keliru
Lihatlah itu
Elang perkasa telah menungguku
Dia lah harap dalam biru
Melepaskan rantai-rantai belenggu
Terbang melintas batas memeluk rindu
Harusnya sudah begitu sejak lalu

(Jakarta, 29 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Pada Tepian Taubat

Harusnya…
Tak mungkin kau musykilkan semua
Penciptaan insan bukanlah bualan
Keberuntungan tak bertandang menyapamu
Kecuali kau tebar duri pengingkaran
Dogmatis memagari sekujur jaring syaraf
Meniadakan pengecualian atas nama benci
Atas nama rumah suci terabai penghuni abadi
Hembusan fitnah keji dan air wudhu
Menghapus sujud rakaat kudus
Menguapkan golak dengki di tungku api
Sublimasi dosa membatu durjana
Bilakah berjanji melebur khilaf serapah

Matahari dan bulan berpeluk di lini cakrawala
Seseorang bertongkat emas kilauan
Duduk berwibawa melafaz tasbih
Tak kau dengar salam sapa lembut
Di ruang jeda pertikaian gending angin
Pencuri kalimah surah milik Illah
Fasih di ingatan bercabang di lidah naga
Hampa daya di timbangan barzah
Salah memaknai surau mendedah surah
Amalan ibadah tertukar bid’ah
Sudahi bersilat lidah
Bukan kita pemilik benar salah

(Jakarta, 28 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Separuh Mimpi tak Usai

Entah apa yang membangunkan dari henyak tidur sesaatku
Gaung mimpi kepagian mewujud ketakutanku
Rindu menggantung-gantung di ruang kosong
Atau aku, pun ia sama abainya melisan rindu
Tak menyisakan setitik untuk dahagaku

Sementara di antara hujan dan dingin malam
Aku menggigil menanti jejak langkah melintas
Apa lah yang membuat bagian waktuku sempat hilang detak
Buaian resah hujankah yang melena bawah sadarku
Meretas bunga harap jadi sesal kesakitan

Dan saat malam merangkak meraih pagi
Kucari ia di antara hening kota-kota mati
Menyapanya walau kemusykilan mentertawai kebodohanku
Angin saja pun tak sudi kutitipkan salam

Aku ketinggalan kereta malam, sayang
Membawanya laju tanpa desiran
Ke alam mimpi tidak bertuan
Menghempaskan aku sendirian
Dalam kejam deru hujan

Dan pagi…
Jangan bangunkan aku lagi
Jangan berjanji setelah basi
Aku hilang pasti hampir mati
Matahari tak bersinar di sini
Biar kulanjut sisa mimpi tadi

(Jakarta, 25 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Mengalah

Jika memang sudah merasa ada tanda-tanda tak dikehendaki lagi, alangkah eloknya jika kita mencoba untuk mengalah dan menyisih saja daripada bertahan tapi sedih sendiri, seperti layaknya sebatang korek api lembab berada di antara batang korek api lainnya yang telah kering.

Ya sudahlah! Toh, suatu saat batang kayu korek api itu pun akan kering dengan sendirinya. Hanya saja kuncinya adalah, kita harus berbesar hati, ikhlas dan sedikit sabar. Memilih diam dan tenang pasti akan jauh lebih indah.

Percayalah…

(Jakarta, 24 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Perempuan Lestari

Melihatnya berdialog menyapa hujan
Tersenyum renyah membelai asuhan
Suka ria bunga rumput dan pepohonan
Menari lincah di gemericik basah
Tekun menyepi di belantara mangroove
Penjaga jelita pendamai darat dan lautan
Gadis suntingan pilihan semesta
Mencipta surganya sendiri

Berjodoh atas kehendak langit dan bumi
Reinkarnasi Dewi Sri merundukkan tangkai bulir padi
Kembali henyak bersujud ke dasar bumi
Kepada tanahnya yang gembur
Kepada airnya yang melimpah
Perempuan itu mempelai semesta
Melindungi perut rahim ibu sendiri
Laskar Srikandi penjaga gerbang Pertiwi

(Jakarta, 23 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Daun Jatuh tak Pernah Membenci Angin

Bila mencintai kekasih adalah salah
Maka dimanakah kebenaran cinta itu sendiri?
Aku bahkan tak pernah menuntutnya
Mengapa ada cinta yang cenderung menuntut?

Bila cinta timpang sesisih adalah laku dari egoisme semata
Mana kemegahannya yang digadang-gadang selalu mampu mengalah itu?
:
Cinta bicara untuk cinta

(Jakarta, 16 Januari 2019, 00:49)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Gairah Ibu Kota

Terlahir sebagai bunga asuhan bulan dan matahari
Cantik belia pujaan insan reka ciptaan
Tersiar sampai poros bumi belahan
Sesiapa berlomba hendak meminangmu
Kharisma yang menawan sepanjang jaman
Bersijingkat melalui putaran waktu dan edisi

Tubuhmu seronok menyilaukan sisi pandang
Gairah basah malam yang kau tawarkan
Memabukkan dalam kepayang menyesatkan
Seperti bentuk kurva dan labirin
Hanya satu hal pantas kusebut :
“Kau sungguh terlalu…”

Terlalu mulus dan jenjang
Terlalu berliak-liuk tajam
Terlalu harum dan bersinar
Menggoyang dan memutar malam
Tarian keliaran gula-gula manja
Menawarkan nikmat tak usai
Memungut jeda napas berpagut
: :
Jelita terhuyung di bibir ranjang tuan fajar
Gincu dan pupurnya pudar luntur
Bersimbah peluh deras mengucur
Bau tubuhnya bercampur lumpur
Serupa Maria Zaitun ia pun tumpur

(Jakarta, 15 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Khayal Sunyi

Sedalam malam, sesanggup langit mengucap sunyi, demikianlah aku mencintaimu.

Malam hanya sepanjang malam.
Siang hanya sepanjang siang.
Tetapi sepanjang siang dan malam, bayang-bayangmu terus memanjang.
Memenuhi hari-hariku yang terbuat dari rindu.

Sekali waktu, aku ingin datang mengetuk jendela kamarmu.
Membisikkan cinta sebagai mimpi dan mengecup bibirmu sebagai puisi.
Lalu abadi sebagai sunyi dalam nadimu.

(Jakarta, 11 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Kadung Salah Terima

Jika engkau bicara marwah atas kaumku
Terjangkau kah perjuangannya di kepalamu
Bercerita kah engkau tentang air susu ibu yang kering
Bercerita kah engkau tentang bocah belia yang dipaksa tinggal sekolah

Kawin muda saja lah lepaskan sengsara emak dan bapak
Sekonyong-konyong lepas satu tanggung jawab mereka
Terjual ijon usianya sebagai ganti periuk nasi
Terbiasa buta mengenal cinta dan kesejatian
Kemiskinan norma atas kemerdekaan yang tak tuntas
Kadung salah terima

Bebas lepas tanpa kendali mengatur bahasa
Bebas lepas tanpa kendali mengatur busana
Bebas lepas tanpa kendali mengatur lakunya Bebas lepas tanpa kendali membentur susila
Bebas lepas tanpa kendali membentur hukum dan sekitarnya

Jujurkah yang bicara keseragaman
Satu sebangun adil merata
Tentang kepatutan
Tentang kesejahteraan
Tentang kecantikan
Tentang arisan dan kolega
Bertebaran di meja-meja perjamuan
Memoles peradaban di atas meja pertemuan
Melenggang elok perempuan fantastis!

Ah, celaka semua
Kadung salah terima
Lalu di mana mereka yang hendak dipersatukan?
Apalah, masih asik lagi mencari kutu
Kasak-kusuk membakar tipis-tipis daun telinga
Yang lainnya terjun bebas mengemis
Mengukur jalan perempuan pengais!
:
Minyak dan air sama mengalir
Tak sama mampir saat dilansir

(Jakarta, 06/01/2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |