Satukan Panji Negeri

Kebekuan tampak pongah hilang budi
Enggan menatap air dan tanahmu berpijak
Sorotnya menghunjam jauh di cakrawala
Potret bayangan kejam dan tiran
Sembunyi dalam kepompong petaka

Tangan berurat ini tinggikan kepal
Meninju gahar mengoyak langit
Siapa makhluk kepala batu itu
Merasa istimewa selaksa dewa
Terdogma dari ketelanjuran yang fatal

Persekongkolan konspirasi bisik-bisik
Bocor gemanya di balik balai-balai megah
Terlindung kubu-kubu pagar betis
Menggunakan kekuatan oportunis
Menggunting dalam rapinya lipatan Pusaka Ibu

Ayo bergerak bersama putera-puteri Pertiwi
Jaga hutan, darat, gunung dan lautmu
Perjuangan hidup mati semata bela negeri
Pasang panji-panji di sepanjang garis pantai
Lisan sejarah seperti wangsit Sabda Palon
“Musuhmu memang saudaramu sendiri”
:
Lalu mengapa harus mati konyol
Perlukah merdeka diperjuangkan?

(Jakarta, 28 April 2019)

Rosa

Aku memilih meluluskanmu pergi tak kembali
Tak ada lagi peluk belaian tempat mengadu
Kereta kencana megah menggiringmu
Mempelai tercantik taman Firdaus
Anggun memeluk jalinan puspa
Tepat di atas bilur lukamu

Seret langkahku kembali gontai
Bila senyap wajahmu mengusik
Sendiri meratapi pilu
Mengenangmu sungguh dahsyat
Tanpa batas rindu doa terpanjat
Menyeret bilangan usia
Padamu, Rosa

(Jakarta, 28 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Puisi Bertasbih

Kau tahu sayang
Gelisahku samar senyap terbayar tuntas
Setelah kau rangkum perjumpaan sakral
Puisi dan harapan menari di langit saga
Menyatukan irama dan diksi sebagai nafas pelangi
Mengundang bidadari meluncur turun ke bumi
Mengenakan sandang rajut puisi kita
Selaras mengulas awas tatapan mata
Kemudian jatuh di dalam buaian jiwa
Larut bersama senja menjemput malam
Cahayanya melayang terbang
Merangkai tasbih bintang

(Jakarta, 22 April 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Siratan untuk Kartini

Boleh kupinjam tusuk konde, gelung, jarit dan kutubarumu, Mbakyu? Hari ini anakku dapat tugas pakai ageman sepertimu. Jujur, aku belum mampu membelikannya walau cuma satu. Kenapa engkau malah menambah susah hidupku lagi? Haruskah mengenangmu saja perlu betul berkebaya?

Sementara anak-anak dan guru-gurunya pun tak mau tahu, makan apa kami hari ini. Demi harus mendandani anakku sama seperti Ibu Kartini. Demi nilai satu mata pelajaran yang terancam buruk. Begitu kah mengenangmu selalu?

Nasibku tidak sama seperti nasibmu. Engkau tetap perempuan berkecukupan dari kalangan bangsawan. Meski engkau terkungkung, tapi tetap tercukupi. Sementara aku cuma seorang perempuan kampung, buruh pabrik rokok. Sekalipun jaman sudah terus bergeser maju, keadaan tak ikut serta merta bergeser dan merubah baik semua nasib wong cilik, Mbakyu.

Lalu, apa kau tahu letak salahnya persepsimu tentang nasib kaummu dulu dan di jaman megah teknologi kekinian yang masih blang-blonteng dimana-mana? Toh masih saja terus menyeret sisa-sisa warisan kemiskinan negeri yang katanya gemah ripah ini bukan?

Ayolah, bukankah ini sama saja? Perempuan, dimana pun harus terus bisa berjuang sendiri. Mengimbangi hidupnya sendiri. Sebagai apa pun, perempuan harus berani ke luar dari zona nyaman, Mbakyu.

Sehebat apa pun seorang perempuan, tapi kodratinya akan kembali lagi kepada marwahnya, kepada lingkungan, anak-anak dan keluarganya. Hukum alamlah yang sudah mentasbihkannya demikian.

(Jakarta, 21 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Negeri Yatim Piatu

Aku mencium bau busuk di mana-mana
Dari mulut-mulut berbusa penuh tuba
Mengerat kusut isi kepala yang tumpat
Tersesat jalan para kesumat

Waktu masih berjalan menghampiri ketakutan
Berlari cepat menyergap keadaan
Menunggu pun enggan dilewatkan
Mendadak kelicikan rebak ruah ditebarkan

Tercoreng lagi satu sejarah paling hitam
Mengutip dosa lama merobek pemersatu
Menutup lima indera mencincang pedoman
Keserakahan datang merompak perut ibu

Jangan teriakkan nama keagungan Tuhan
Ibadah berkalung tasbih arang menghasut langit
Bumi kupijak tanah gersang meranggas
Melunturkan putih tumpahkan merah darah

Tak perlu membela atas nama apa saja
Apa lagi yang tersisa bisa dipercaya
Menangis ibuku di balik lipatan bendera
Airmatanya meredam api
:
Sejarah negeri gugur sekarat terenggut paksa

(Jakarta, 19 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Sonata Biru

Menghabiskan waktu di bibir senja
Menjemput perjalanan ringkihnya rindu
Kutemukan binar-binar puisi
Di pinggan eclair dan churos
Bergetar bibirku mereguk hangat dahaga

Melempar tanya cemburu di matanya
Ada maaf melarut bersama kristal gula
Begitu semarak akumulasi cerita
Bertaut romansa warni dan warna

Dijamah malamnya kujalin aksaranya
Selipkan bunga-bunga puisi
Menjuntai manja di ujung rambutku
Mata tajam itu menatapku teduh :

Bon apetite, ma belle…“, bisiknya
Rindu merunduk rapuh tersipu dadu

(Jakarta, 18 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Dialog Malam kepada Pagi

Rangkai puisiku menggigil nyeri
Dingin sendiri menanti muara hari
Terbalut selimut rindu mencari hangat
Hembusan angin dini kejam menyayat
Menjemput matahari tak sinari bumi
Semalaman hujan meraba penjuru nadi
Bulan absen, bintang permisi
Semua pergi tanpa basa-basi
Puisi sunyi tertidur mengurai letih
Mendamaikan pikir silang selisih
Bilakah sunyi sudi menyisih…

(Jakarta, 11 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Menilik Bilik Hati

Biarkan saya berdiam di sini. Biarkan saya kompromi berdiskusi sendiri. Berkawan pada setitik cahaya tenang dan sunyi.

Sudah lama saya kehilangan cinta. Saya rindu sesama saudara. Saya hilang kebersamaan seasri lalu. Mereka sudah sibuk dan pandai sekali menggurui. Hingga murid pun sudah boleh menggurui gurunya. Semoga arif bijana bukan menggarai.

Saya letih ingin sendiri. Belajar membaca dan berdiskusi pada Maha Guru Terhakiki. Alam raya pun tak dapat mendalihNya. Meski tak sekali pun diguruiNya sesiapa. Hanya napas semesta lah petunjuknya.

(Jakarta, 11 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Menjaga Langit

Tidak berharap kau tahu
Apalagi mengerti debat sengitku dengan langit
Pagi lalai datang tanpa permisi
Membangunkan tidur sarat mimpi
Tak kusadari singgahnya matahari
Sudah sampai di bibir petang
Belum lagi kudapat apapun
Kecuali kulitku yang kian tipis
Legam teranggas bias

Hari ini ketidak-adilan melangkah pongah
Seperti nyonya gedongan terengah-engah
Mengangkang gagah di atas kepalaku
Harusnya kugibas cahaya palsunya
Mengintip di balik kutang milik emak
Dengan tarian asap puntung sigaretnya
Mengikis muak pada pandanganku
Terhuyung-huyung di kawah dendam rindu
:
Bila tak sanggup bersusah-susah
Cepat-cepat lah berbenah
Bila harus diam memilih lemah
Mati pun jadilah

(Jakarta, 10 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Mahfum

Tak ingin menerka-nerka kemana angin akan condong bertiup. Seperti hari kemarin, aku tak bergeming menatap ujung jalan lurus. Tak hirau kakiku retak terbakar. Menghalau hujan badai oleh retas pandangan. Menjaga pikir dan langkah dari buruknya atmosfir udara. Jarak perih sudah tidak terhitung.

Walaupun menyesak, hanya sekilas lalu sirna. Sadar beta telanjur hadir di gerbang iba. Kesiur angin menderas singit kebat-kebit. Bibirku terkunci menggulirkan rangkai tetasbih doa. Mengulas senyum ikhlas dari nalar bertudung mahfum. Maafkan mereka. Karena hati dan pikir milik insan memang terpisah jarak cukup jauh.

(Jakarta, 9 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |