Tak ingin menerka-nerka kemana angin akan condong bertiup. Seperti hari kemarin, aku tak bergeming menatap ujung jalan lurus. Tak hirau kakiku retak terbakar. Menghalau hujan badai oleh retas pandangan. Menjaga pikir dan langkah dari buruknya atmosfir udara. Jarak perih sudah tidak terhitung.
Walaupun menyesak, hanya sekilas lalu sirna. Sadar beta telanjur hadir di gerbang iba. Kesiur angin menderas singit kebat-kebit. Bibirku terkunci menggulirkan rangkai tetasbih doa. Mengulas senyum ikhlas dari nalar bertudung mahfum. Maafkan mereka. Karena hati dan pikir milik insan memang terpisah jarak cukup jauh.
(Jakarta, 9 April 2019)
| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |
| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |