Dahlia

Kemarin lalu dia masih bersamaku
Menghempaskan kepulan kisah sedih
Mereguk sepi dari bergelas ampas kopi
Tak tahan pada bayangan tak pasti
Akankah harap dan rindu henti di titik nol?
Wajahnya menghitam sedingin nisannya

Setiap hari duduk di simpang tatapan
Tekun memandang arloji dan penjuru jalan
Paruh usianya tergantung di tiang jemuran
Seseorang meremukkan impian
Yakinkan syak bakal tak datang
Jemput sekarang, tuhan
Selesaikan lah

(Jakarta, 17 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Jejak Puisi Pasir

Ombak beriak menengadah pasrah
Angin mendesis gairahnya basah
Langit berarak mendekatkan jarak
Siang pelahan menutup layarnya
Matahari mengecup batas laut dan udara
Berpelukan di hampar bias redup cahaya
Senja melingkari erat tubuh-tubuh rapat-rapat
Mendegupkan napas insan kesumat

Tembang daun nyiur silir-silir
Menyapu latar sepanjang bibir pesisir
Burung-burung manyar terbang rendah
Di depan laut pun bertaut kisah
Langit jingga merengkuh laut biru
Lebur dalam gradasi ungu
Jejak-jejak kaki pernah jadi puisi
Tertinggal abadi di situ
Terbilas buih di pantaimu

(Jakarta, 17 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Gagal Fokus

Bila tak mampu lagi untuk berdiri
Harusnya kau tak berhenti
Cari penyanggahmu tanpa keluh
Apa lagi menyeret bahu ibumu itu
Tameng rangkap melapis kedokmu
Angin bersiur meliput berita suka-suka

Aku melihat teramat jelas
Taring bunda si anak domba
Tersimpan apik di gelung rambutnya
Duet jetset meradang kompak di pentas
Sumbang menendang belalak pirsawan
Berduyun-duyun tinggalkan panggung

Aku mulai mual oleh gumoh
Sesak rasa menahan kencing
Mencari wadah buangan limbah di perut
Ada aroma susu basi ibu keladi
Di jejal cecap isapan putera mahkota
Muncrat-muncrat menodai kacamata
:
Penonton kecewa!!!

(Jakarta, 12 Februari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Melintas Senja

Warnanya pucat kuning muda
Disambangi mega-mega kelabu
Tidak begitu dengan sepasang prenjak
Yang berhasil menangkap cahaya merah saga
Biasan sekelompok kelopak sekar padma
Merekah di bawah langit petang

Senyum Dewi Kwan Im menebar cinta
Kepada jiwa-jiwa kasmaran
Saling merengkuh rapat-rapat
Sembunyi di balik mendung tipis-tipis
Menggulung gelisah keinginan purba
Berbisik lembut menautkan bilah-bilah bibir

Atas nama rindu dan hasrat berpeluh
Mengalirkan hangat buaian malam
Hempas berpuas-puas di pucuk sabit
Menunggu waktu merambah pagi
Kedalaman syukur yang dironjatkan
Menutup kesempurnaan
:
Kekasih…
Tinggallah lagi sesaat
Di luar hujan lebat sangat

(Jakarta, 07 Pebruari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Maafkan Bila ‘Ku harus Jujur

Aku bersyukur
Berkali abai luluskan pintamu yang kabur
Beruntung tak banyak ucapku berhambur
Engkau telah keji meludahi janji
Aku tergugah dari mimpi
Sejauh perjalanan katamu sakral suci
Hanya untuk bertanya, “Bagaimana caranya tertawa?”
Ya, kau sadari juga akhirnya
Aku adalah mimpi terburukmu
Melati yang menghantui ruang sesalmu

Mengapa hanya bicara lukamu sendiri
Mendedah duka-cita pura-pura
Menepi di medan perhentian paling celaka
Mandi madu dusta semata
Bersamanya kau berhasil tertawa bahagia
Segera rapatkan pintu dan jendela

Siapa sibuk mengatur siasat
Terhapus sudah jejak riwayat
Tak kurutuki kisah yang tamat
Mana mungkin sempat
Dalam luka tersayat aku minggat
Seumur hidup pun tak akan kuingat

Kau sungguh lucu
Selalu masih saja keliru
Lihatlah itu
Elang perkasa telah menungguku
Dia lah harap dalam biru
Melepaskan rantai-rantai belenggu
Terbang melintas batas memeluk rindu
Harusnya sudah begitu sejak lalu

(Jakarta, 29 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Pada Tepian Taubat

Harusnya…
Tak mungkin kau musykilkan semua
Penciptaan insan bukanlah bualan
Keberuntungan tak bertandang menyapamu
Kecuali kau tebar duri pengingkaran
Dogmatis memagari sekujur jaring syaraf
Meniadakan pengecualian atas nama benci
Atas nama rumah suci terabai penghuni abadi
Hembusan fitnah keji dan air wudhu
Menghapus sujud rakaat kudus
Menguapkan golak dengki di tungku api
Sublimasi dosa membatu durjana
Bilakah berjanji melebur khilaf serapah

Matahari dan bulan berpeluk di lini cakrawala
Seseorang bertongkat emas kilauan
Duduk berwibawa melafaz tasbih
Tak kau dengar salam sapa lembut
Di ruang jeda pertikaian gending angin
Pencuri kalimah surah milik Illah
Fasih di ingatan bercabang di lidah naga
Hampa daya di timbangan barzah
Salah memaknai surau mendedah surah
Amalan ibadah tertukar bid’ah
Sudahi bersilat lidah
Bukan kita pemilik benar salah

(Jakarta, 28 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Separuh Mimpi tak Usai

Entah apa yang membangunkan dari henyak tidur sesaatku
Gaung mimpi kepagian mewujud ketakutanku
Rindu menggantung-gantung di ruang kosong
Atau aku, pun ia sama abainya melisan rindu
Tak menyisakan setitik untuk dahagaku

Sementara di antara hujan dan dingin malam
Aku menggigil menanti jejak langkah melintas
Apa lah yang membuat bagian waktuku sempat hilang detak
Buaian resah hujankah yang melena bawah sadarku
Meretas bunga harap jadi sesal kesakitan

Dan saat malam merangkak meraih pagi
Kucari ia di antara hening kota-kota mati
Menyapanya walau kemusykilan mentertawai kebodohanku
Angin saja pun tak sudi kutitipkan salam

Aku ketinggalan kereta malam, sayang
Membawanya laju tanpa desiran
Ke alam mimpi tidak bertuan
Menghempaskan aku sendirian
Dalam kejam deru hujan

Dan pagi…
Jangan bangunkan aku lagi
Jangan berjanji setelah basi
Aku hilang pasti hampir mati
Matahari tak bersinar di sini
Biar kulanjut sisa mimpi tadi

(Jakarta, 25 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Mengalah

Jika memang sudah merasa ada tanda-tanda tak dikehendaki lagi, alangkah eloknya jika kita mencoba untuk mengalah dan menyisih saja daripada bertahan tapi sedih sendiri, seperti layaknya sebatang korek api lembab berada di antara batang korek api lainnya yang telah kering.

Ya sudahlah! Toh, suatu saat batang kayu korek api itu pun akan kering dengan sendirinya. Hanya saja kuncinya adalah, kita harus berbesar hati, ikhlas dan sedikit sabar. Memilih diam dan tenang pasti akan jauh lebih indah.

Percayalah…

(Jakarta, 24 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Perempuan Lestari

Melihatnya berdialog menyapa hujan
Tersenyum renyah membelai asuhan
Suka ria bunga rumput dan pepohonan
Menari lincah di gemericik basah
Tekun menyepi di belantara mangroove
Penjaga jelita pendamai darat dan lautan
Gadis suntingan pilihan semesta
Mencipta surganya sendiri

Berjodoh atas kehendak langit dan bumi
Reinkarnasi Dewi Sri merundukkan tangkai bulir padi
Kembali henyak bersujud ke dasar bumi
Kepada tanahnya yang gembur
Kepada airnya yang melimpah
Perempuan itu mempelai semesta
Melindungi perut rahim ibu sendiri
Laskar Srikandi penjaga gerbang Pertiwi

(Jakarta, 23 Januari 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Daun Jatuh tak Pernah Membenci Angin

Bila mencintai kekasih adalah salah
Maka dimanakah kebenaran cinta itu sendiri?
Aku bahkan tak pernah menuntutnya
Mengapa ada cinta yang cenderung menuntut?

Bila cinta timpang sesisih adalah laku dari egoisme semata
Mana kemegahannya yang digadang-gadang selalu mampu mengalah itu?
:
Cinta bicara untuk cinta

(Jakarta, 16 Januari 2019, 00:49)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |