Dialog Malam kepada Pagi

Rangkai puisiku menggigil nyeri
Dingin sendiri menanti muara hari
Terbalut selimut rindu mencari hangat
Hembusan angin dini kejam menyayat
Menjemput matahari tak sinari bumi
Semalaman hujan meraba penjuru nadi
Bulan absen, bintang permisi
Semua pergi tanpa basa-basi
Puisi sunyi tertidur mengurai letih
Mendamaikan pikir silang selisih
Bilakah sunyi sudi menyisih…

(Jakarta, 11 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Menilik Bilik Hati

Biarkan saya berdiam di sini. Biarkan saya kompromi berdiskusi sendiri. Berkawan pada setitik cahaya tenang dan sunyi.

Sudah lama saya kehilangan cinta. Saya rindu sesama saudara. Saya hilang kebersamaan seasri lalu. Mereka sudah sibuk dan pandai sekali menggurui. Hingga murid pun sudah boleh menggurui gurunya. Semoga arif bijana bukan menggarai.

Saya letih ingin sendiri. Belajar membaca dan berdiskusi pada Maha Guru Terhakiki. Alam raya pun tak dapat mendalihNya. Meski tak sekali pun diguruiNya sesiapa. Hanya napas semesta lah petunjuknya.

(Jakarta, 11 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Menjaga Langit

Tidak berharap kau tahu
Apalagi mengerti debat sengitku dengan langit
Pagi lalai datang tanpa permisi
Membangunkan tidur sarat mimpi
Tak kusadari singgahnya matahari
Sudah sampai di bibir petang
Belum lagi kudapat apapun
Kecuali kulitku yang kian tipis
Legam teranggas bias

Hari ini ketidak-adilan melangkah pongah
Seperti nyonya gedongan terengah-engah
Mengangkang gagah di atas kepalaku
Harusnya kugibas cahaya palsunya
Mengintip di balik kutang milik emak
Dengan tarian asap puntung sigaretnya
Mengikis muak pada pandanganku
Terhuyung-huyung di kawah dendam rindu
:
Bila tak sanggup bersusah-susah
Cepat-cepat lah berbenah
Bila harus diam memilih lemah
Mati pun jadilah

(Jakarta, 10 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Mahfum

Tak ingin menerka-nerka kemana angin akan condong bertiup. Seperti hari kemarin, aku tak bergeming menatap ujung jalan lurus. Tak hirau kakiku retak terbakar. Menghalau hujan badai oleh retas pandangan. Menjaga pikir dan langkah dari buruknya atmosfir udara. Jarak perih sudah tidak terhitung.

Walaupun menyesak, hanya sekilas lalu sirna. Sadar beta telanjur hadir di gerbang iba. Kesiur angin menderas singit kebat-kebit. Bibirku terkunci menggulirkan rangkai tetasbih doa. Mengulas senyum ikhlas dari nalar bertudung mahfum. Maafkan mereka. Karena hati dan pikir milik insan memang terpisah jarak cukup jauh.

(Jakarta, 9 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Munira

Sebentar aku kembali, gadis baik
Akan kubunuh pagi yang kerempeng
Kusisakan sepinggan sumsum buat sarapan
Asaku semata adalah kau dan senyuman
Tersulam indah di langit harapan
Doaku bekal bagi sambung nyawa
Kearifan dan kesabaran dalam syukur
Adalah janji yang pasti ditepati
Kuat lah selalu nanda permata

(Jakarta, 8 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Matahari

Energi itu lebih dulu menyapa
Tersenyum nakal dan hangat
Aku masih lena disandera malas
Terentang di antara langit dan bumi
Terkirim parau recoknya si taji jantan
Enggan terbangun lanjut pun gagal
Matahari terpingkal mengejek licik
Terkepal gemas tinjuku padanya
:
“Selamat pagi, pemalas!”

Selimutku terdampar ke perut bumi
Bibirku kering dijalari hawa panas
Aku tersedak napas pun sesak
Tercekat bangkit dan meronta
Hambur ke kamar mandi
:
“Ah, dasar pencuri!”

(Jakarta, 23 Maret 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Esther

Aku datang lagi
Ingin mengenangmu
Duduk di halte biru
Di depan gerbang sekolahmu
Gadis kecil mungilku
Biasanya kita duduk di sini
Mendengar celotehmu
Merasakan peluk manjamu
Semriwing wangi tubuhmu
Cupid yang menggemaskan
Lucunya kamu

Menatap pucuk menara gereja
Angin menyapu airmata rinduku
Pada pipi gembil berlesung
Rambut poni kucir kuda
Tubuh montok ceria
Berhamburan menghampiriku
Bertukar bekal sambil tertawa
Seusai pak sopir berlalu pulang
Sebelum lonceng sekolah memanggil
Kita berkencan dengan matahari
Aiih… lucunya kamu

Esther
Puisi kecilku hidup
Saat kau baca sambil menari
Kini mewujud kupu-kupu cantik
Terbang sebagai kerlip bintang
Membawamu ke surga

(Jakarta, 22 Maret 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Dungu

Mengetahui satu jentikan jari limbung
Menganggap semua telah rampung
Melipat masalah terlalu mentah
Kau berpaling tatap ingin lenyap
Apa pedulimu pada harkat jasad

Bahwa satu tambah satu jadi kepastian
Hanya itu kau pikir jamak kesimpulan
Semua janin pun tetawa mengejan
Di gerbang liang-liang kelahiran
Kau cuma sepotong generasi ketinggalan
Lalu apa arti seringaimu bagi harapan

Generasi menuntut adanya perubahan
Bukan melulu tabiat kekonyolan
Hei bung! Jangan cuma retas kompas
Semudah itukah jalan tiap keputusan
Galilah saja kuburmu tuk masa depan

(Jakarta, 21 Maret 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Sampai di Sini

Melunglai ruas tulang-tulangnya
Menyangga cakar belukar
Daun-daun berpelukan
Berdesakan berhimpitan
Tersengal-sengal ditampar angin
Tampak tak beraturan
Bergesekan pada rimbun keliaran
Satu-satu yang tak bertahan
Jatuh dimana saja oleh kesenjaan
Lebur membusuk celaka
Dilumat hujan dan cacing tanah
Datang pergi silih berganti
Pada pemakaman alami
Tak ada prosesi dan doa-doa
Hingga tumbang kikis
Akar renta mengungkit pokok
“Baaamm!!!”
Lelah bertahan diasuh ratusan musim
Tanpa sempat menghitung usia
Di rentang lautan langit berkaca
Janji semesta genap tersurat
Selamat tamat!

(Jakarta, 21 Maret 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Perpaduan Sakral

Sudah genap sematan cincin di jari
Menjamah bidang jangat kulitmu
Menangkap gairah bibir-bibir basah
Sepasang mata redup tanpa daya
Melangitkan aku di batas surga
Lunglai tersentak-sentak
Gemas meremas kusut rambut
Derit ranjang riuh mengaduh
Membuai dewa dewi suarga loka
Berputar-putar di ruang klasik labirin
Mabuk kepayang mencecap tubuh kekasih
Melangutkan aroma seribu bunga
Tetabuh derap tifa dan nafiri
Erotísme harpa dan sitar
Melucut dan melecut-lecut
Melekat erat terkendat-kendat
Mengerang di dekap kedap
Memacu langit berarak dan berserak
Membalut bulatnya birahi
Menekan kedalaman bertubi-tubi
Cengkeram geram
Teriakan manja terseram
Kekasih lemas terhempas kandas
Puas di serapan tarikan napas
Luapan seubun-ubun hasrat
Dewi bulan berpendar pasrah

“Selamat tidur, pengantinku”

(Jakarta, 21 Maret 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |