Jangan Bilang-bilang Tuhan, Ya!

Bila mata zahir tak sejiwa mata lahirku
Memandang birahi pada sesuatu bukan milikku
Lewat lima rambu terlanggar benang merahnya
Ada nikmat di balik aturan buatan
Berderet panjang melulu larangan
Separuhnya bau bangkai kelicikan
Memancing api merambah rumput kering
Menyulut hasut orang-orang kalut

Katakan hukum mana paling adil
Jika rasanya mudah betul menjadi basi
Seperti warna-warni jajan pasar
Sebut saja satu yang kau mau
Apa yang tak bisa dinegosiasi
Maju tak gentar bela saja yang bayar
Perut dan gengsi bermain mata
Kakinya dekil di atas payung hukum
Terus menari dan menggoda
Tak luput ulama pembela agama
Fasih mengerti kandungan doa
Seujung kotoran kuku dibuatnya
:
Belum tenang sebelum binasa
Api, air, tanah dan angin

(Jakarta, 09 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Chaos

Playboy tua itu pun mati bugil sebelum temukan pengantinnya
Penari perut menancapkan kepala ular dalam celah pahanya
Sepinggan sup daging merah dirubung semut tak kunjung gendut
Mereka sama-sama mati orgasme

Lalat-lalat mabuk berdansa cha cha cha
Kecoa bunting beranak prematur
Malaikat melintas pura-pura buta
Maestro gagal tuntaskan goresannya
Tuan-tuan ulama lupa bacaan doa
Mencari Tuhan dalam retak cangkir kopinya

(Jakarta, 08 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Omega

Orang-orang panik lalu lalang
Orang-orang hambur berlarian
Mengejar waktu yang hampir mengerucut.
Aku bahkan tak bisa memandang diri
Walau hanya bayanganku sendiri
Timbul tenggelam dalam bilangan
Ratusan corak warna usang

Samar terpisah di antara jasad dan ruh
Menunggu sedikit-dikitnya kemungkinan
Bila saja waktu bergeser lebih mundur
Menanggalkan sayat-sayat dosa
Nalar, perasaan dan naluri liar
Mendeklamasikan puisi jual beli
Di atas noktah harga mati

Mencoba sekali lagi
Berdamai menawar hari
Hingga amarah lumpuh sulit meledak
Mati sekarat jua terinjak harkat
Luluh lantak dimakan lalat
Terkubur senyap
Lesap

(Jakarta, 07 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Syair Kupu-Kupu

Aku bingung mendapatkan awal sebuah mula
Padahal sudah kubiak-biakkan lipatan hari
Diksi-diksi terpilih itu sudah terpateri kuat
Pada dinding galeri jiwa yang merdeka
Bermegah kokoh indah pesona
Metafor dan frasa mengaduk romansa

Sepuas decakan kekagumannya
Sepuas napas kuhela lepas bebas
Meniti keharuan kisah pinggan terbelah
Masygul melamun jauh kupuja langit
Nyaris mustahil puisi terangkai sempurna
Kehilangan paling merana, paling luka

Aksaranya pernah tak utuh terenggut angin
Tersangkut di dahan ranting patah
Terjun bebas terbawa kelok arus sungai
Terhambat di celah-celah batu kali
Teriakanku pilu menggema
Bergetar di bejana kopi pekatnya
Meraung di lembar puisi kesakitan

Menunda harap cemasku yang teronggok
Seseorang mengintai dari balik jendela
Persuaan terjawab di muara rindu
Menuntun aksara ringkihku pulang
Menggenggam trauma ketakutan
Merawat luka yang menghimpit
Kembali ke dalam peluk semesta
Menjalin diksi dari aksara rapi-rapi
Merebak indah syair kupu-kupu

(Jakarta, 07 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Satukan Panji Negeri

Kebekuan tampak pongah hilang budi
Enggan menatap air dan tanahmu berpijak
Sorotnya menghunjam jauh di cakrawala
Potret bayangan kejam dan tiran
Sembunyi dalam kepompong petaka

Tangan berurat ini tinggikan kepal
Meninju gahar mengoyak langit
Siapa makhluk kepala batu itu
Merasa istimewa selaksa dewa
Terdogma dari ketelanjuran yang fatal

Persekongkolan konspirasi bisik-bisik
Bocor gemanya di balik balai-balai megah
Terlindung kubu-kubu pagar betis
Menggunakan kekuatan oportunis
Menggunting dalam rapinya lipatan Pusaka Ibu

Ayo bergerak bersama putera-puteri Pertiwi
Jaga hutan, darat, gunung dan lautmu
Perjuangan hidup mati semata bela negeri
Pasang panji-panji di sepanjang garis pantai
Lisan sejarah seperti wangsit Sabda Palon
“Musuhmu memang saudaramu sendiri”
:
Lalu mengapa harus mati konyol
Perlukah merdeka diperjuangkan?

(Jakarta, 28 April 2019)

Rosa

Aku memilih meluluskanmu pergi tak kembali
Tak ada lagi peluk belaian tempat mengadu
Kereta kencana megah menggiringmu
Mempelai tercantik taman Firdaus
Anggun memeluk jalinan puspa
Tepat di atas bilur lukamu

Seret langkahku kembali gontai
Bila senyap wajahmu mengusik
Sendiri meratapi pilu
Mengenangmu sungguh dahsyat
Tanpa batas rindu doa terpanjat
Menyeret bilangan usia
Padamu, Rosa

(Jakarta, 28 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Puisi Bertasbih

Kau tahu sayang
Gelisahku samar senyap terbayar tuntas
Setelah kau rangkum perjumpaan sakral
Puisi dan harapan menari di langit saga
Menyatukan irama dan diksi sebagai nafas pelangi
Mengundang bidadari meluncur turun ke bumi
Mengenakan sandang rajut puisi kita
Selaras mengulas awas tatapan mata
Kemudian jatuh di dalam buaian jiwa
Larut bersama senja menjemput malam
Cahayanya melayang terbang
Merangkai tasbih bintang

(Jakarta, 22 April 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Siratan untuk Kartini

Boleh kupinjam tusuk konde, gelung, jarit dan kutubarumu, Mbakyu? Hari ini anakku dapat tugas pakai ageman sepertimu. Jujur, aku belum mampu membelikannya walau cuma satu. Kenapa engkau malah menambah susah hidupku lagi? Haruskah mengenangmu saja perlu betul berkebaya?

Sementara anak-anak dan guru-gurunya pun tak mau tahu, makan apa kami hari ini. Demi harus mendandani anakku sama seperti Ibu Kartini. Demi nilai satu mata pelajaran yang terancam buruk. Begitu kah mengenangmu selalu?

Nasibku tidak sama seperti nasibmu. Engkau tetap perempuan berkecukupan dari kalangan bangsawan. Meski engkau terkungkung, tapi tetap tercukupi. Sementara aku cuma seorang perempuan kampung, buruh pabrik rokok. Sekalipun jaman sudah terus bergeser maju, keadaan tak ikut serta merta bergeser dan merubah baik semua nasib wong cilik, Mbakyu.

Lalu, apa kau tahu letak salahnya persepsimu tentang nasib kaummu dulu dan di jaman megah teknologi kekinian yang masih blang-blonteng dimana-mana? Toh masih saja terus menyeret sisa-sisa warisan kemiskinan negeri yang katanya gemah ripah ini bukan?

Ayolah, bukankah ini sama saja? Perempuan, dimana pun harus terus bisa berjuang sendiri. Mengimbangi hidupnya sendiri. Sebagai apa pun, perempuan harus berani ke luar dari zona nyaman, Mbakyu.

Sehebat apa pun seorang perempuan, tapi kodratinya akan kembali lagi kepada marwahnya, kepada lingkungan, anak-anak dan keluarganya. Hukum alamlah yang sudah mentasbihkannya demikian.

(Jakarta, 21 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Negeri Yatim Piatu

Aku mencium bau busuk di mana-mana
Dari mulut-mulut berbusa penuh tuba
Mengerat kusut isi kepala yang tumpat
Tersesat jalan para kesumat

Waktu masih berjalan menghampiri ketakutan
Berlari cepat menyergap keadaan
Menunggu pun enggan dilewatkan
Mendadak kelicikan rebak ruah ditebarkan

Tercoreng lagi satu sejarah paling hitam
Mengutip dosa lama merobek pemersatu
Menutup lima indera mencincang pedoman
Keserakahan datang merompak perut ibu

Jangan teriakkan nama keagungan Tuhan
Ibadah berkalung tasbih arang menghasut langit
Bumi kupijak tanah gersang meranggas
Melunturkan putih tumpahkan merah darah

Tak perlu membela atas nama apa saja
Apa lagi yang tersisa bisa dipercaya
Menangis ibuku di balik lipatan bendera
Airmatanya meredam api
:
Sejarah negeri gugur sekarat terenggut paksa

(Jakarta, 19 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Sonata Biru

Menghabiskan waktu di bibir senja
Menjemput perjalanan ringkihnya rindu
Kutemukan binar-binar puisi
Di pinggan eclair dan churos
Bergetar bibirku mereguk hangat dahaga

Melempar tanya cemburu di matanya
Ada maaf melarut bersama kristal gula
Begitu semarak akumulasi cerita
Bertaut romansa warni dan warna

Dijamah malamnya kujalin aksaranya
Selipkan bunga-bunga puisi
Menjuntai manja di ujung rambutku
Mata tajam itu menatapku teduh :

Bon apetite, ma belle…“, bisiknya
Rindu merunduk rapuh tersipu dadu

(Jakarta, 18 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |