Boleh kupinjam tusuk konde, gelung, jarit dan kutubarumu, Mbakyu? Hari ini anakku dapat tugas pakai ageman sepertimu. Jujur, aku belum mampu membelikannya walau cuma satu. Kenapa engkau malah menambah susah hidupku lagi? Haruskah mengenangmu saja perlu betul berkebaya?
Sementara anak-anak dan guru-gurunya pun tak mau tahu, makan apa kami hari ini. Demi harus mendandani anakku sama seperti Ibu Kartini. Demi nilai satu mata pelajaran yang terancam buruk. Begitu kah mengenangmu selalu?
Nasibku tidak sama seperti nasibmu. Engkau tetap perempuan berkecukupan dari kalangan bangsawan. Meski engkau terkungkung, tapi tetap tercukupi. Sementara aku cuma seorang perempuan kampung, buruh pabrik rokok. Sekalipun jaman sudah terus bergeser maju, keadaan tak ikut serta merta bergeser dan merubah baik semua nasib wong cilik, Mbakyu.
Lalu, apa kau tahu letak salahnya persepsimu tentang nasib kaummu dulu dan di jaman megah teknologi kekinian yang masih blang-blonteng dimana-mana? Toh masih saja terus menyeret sisa-sisa warisan kemiskinan negeri yang katanya gemah ripah ini bukan?
Ayolah, bukankah ini sama saja? Perempuan, dimana pun harus terus bisa berjuang sendiri. Mengimbangi hidupnya sendiri. Sebagai apa pun, perempuan harus berani ke luar dari zona nyaman, Mbakyu.
Sehebat apa pun seorang perempuan, tapi kodratinya akan kembali lagi kepada marwahnya, kepada lingkungan, anak-anak dan keluarganya. Hukum alamlah yang sudah mentasbihkannya demikian.
(Jakarta, 21 April 2019)
| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |
| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |
