Opera Rajawali

Kemana pun langkah kaki pergi
Tak sanggup menjauh meski sedepa jarak kepadanya
Tak mampu tinggal dan bertahan
Tersiksa hidupnya bagai keterasingan
Lagi-lagi ingin kembali menatapnya meski harus curi-curi

Deja vu merajut lagi ikatan waktu terputus
Sesungguhnya genggamnya tak pernah putus
Riak-riak rindunya saling memanggil
Dalam sepi sunyi mereka saling mencari
Detak waktu ratusan ribu kali lewat percuma

Menggeliat sukma lara terpenjara bara praduga
Tersiram rinai gairah rindu
Menggempur tembok keakuan oleh kuat asa
Menepis aral tajam berita
Melepaskan rantai kebekuan
Merajut isyarat kunci aksara puisi tercecer
Membuka rahasia pintu berkarat
Merambah peluk tubuh kekasih nan merana
:
Perjumpaan selanjutnya
Tak perlu lagi kata-kata

(Jakarta, 14 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Sigaraning Nyawa

Aku terus menunggu di beranda rumah
Pandangan terus tertuju ke ujung jalan
Sesekali tersentak oleh pikiranku yang halu
Gelisah meliput harap ingin segera sua
Memeluk menciumnya penuh rindu
Syukur nikmat bahagia oleh doa-doa sakti
Terjawab melalui nadi waktu hari ke hari
Menepati janji meruntunkan kebanggaan
Setiap upaya tak menunjuk kesia-siaan

Hingga datang menuntut tantangan berikut
Jalanan berliku memaksaku kalah dan kalut
Aku pernah berkelahi melawan takut
Setelah menghaki dirinya separuh hidup
Takdir harus mengabdikan guna yang patut
Seperti beban berat merasa terenggut
Kutanggalkan kalut pada rakaat dan sujud

Permata terkasih
Atas predikat yang telanjur lekat
Atas cita-cita yang sulit kau dapat
Atas sumpah yang harus dijabat
Atas nama kewajiban menjawab
Menunjukkan pada kerabat
Jadilah engkau wanita bermartabat
:
Raihlah masa depanmu sigaraning nyawaku
Berbakti dan carilah bahagia itu
Mengalir selalu dalam restu dan doa ibu

(Jakarta, 14 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Room Service

Sebentar lagi, sayang
Bantu aku menata ruang
Jendela ini harus kugeser dulu
Tirai dan dindingnya harus putih biru
Biarkan masuk pejuru energi baru
Hangat memeluk setiap pagi
Resik asri kembali berseri
Sesungguh inginku merawat hati

Pernah kisahku runtuh membangkai
Ruang meditasiku terbengkalai
Lupa mana lorong penghubung dunia
Lusuh berdebu baunya lembap
Aku pemilik hunian ruang kedap
Bersahabat pengap dalam gelap
Bersedimen lekat di dinding pekat
Mencari jendela jiwa bahkan malaikat

Suatu kali datang juga orang bertamu
Harapku semoga bukan penjemput maut
Sampai ia hilang bangunkan mimpi panjang
Meninggalkan sapu dan alat kebersihan
Kelak kembali lagi datang menjelang
Demi Tuhan jawab aku, diakah?
Malaikat itukah yang Kau kirimkan
Atau perangkap ilusi bayang-bayang
:
Masuklah, sayang
Aku tidak sedang bermimpi
Ruang ini sudah rapi

(Jakarta, 14 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Jangan Bilang-bilang Tuhan, Ya!

Bila mata zahir tak sejiwa mata lahirku
Memandang birahi pada sesuatu bukan milikku
Lewat lima rambu terlanggar benang merahnya
Ada nikmat di balik aturan buatan
Berderet panjang melulu larangan
Separuhnya bau bangkai kelicikan
Memancing api merambah rumput kering
Menyulut hasut orang-orang kalut

Katakan hukum mana paling adil
Jika rasanya mudah betul menjadi basi
Seperti warna-warni jajan pasar
Sebut saja satu yang kau mau
Apa yang tak bisa dinegosiasi
Maju tak gentar bela saja yang bayar
Perut dan gengsi bermain mata
Kakinya dekil di atas payung hukum
Terus menari dan menggoda
Tak luput ulama pembela agama
Fasih mengerti kandungan doa
Seujung kotoran kuku dibuatnya
:
Belum tenang sebelum binasa
Api, air, tanah dan angin

(Jakarta, 09 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Chaos

Playboy tua itu pun mati bugil sebelum temukan pengantinnya
Penari perut menancapkan kepala ular dalam celah pahanya
Sepinggan sup daging merah dirubung semut tak kunjung gendut
Mereka sama-sama mati orgasme

Lalat-lalat mabuk berdansa cha cha cha
Kecoa bunting beranak prematur
Malaikat melintas pura-pura buta
Maestro gagal tuntaskan goresannya
Tuan-tuan ulama lupa bacaan doa
Mencari Tuhan dalam retak cangkir kopinya

(Jakarta, 08 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Omega

Orang-orang panik lalu lalang
Orang-orang hambur berlarian
Mengejar waktu yang hampir mengerucut.
Aku bahkan tak bisa memandang diri
Walau hanya bayanganku sendiri
Timbul tenggelam dalam bilangan
Ratusan corak warna usang

Samar terpisah di antara jasad dan ruh
Menunggu sedikit-dikitnya kemungkinan
Bila saja waktu bergeser lebih mundur
Menanggalkan sayat-sayat dosa
Nalar, perasaan dan naluri liar
Mendeklamasikan puisi jual beli
Di atas noktah harga mati

Mencoba sekali lagi
Berdamai menawar hari
Hingga amarah lumpuh sulit meledak
Mati sekarat jua terinjak harkat
Luluh lantak dimakan lalat
Terkubur senyap
Lesap

(Jakarta, 07 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Syair Kupu-Kupu

Aku bingung mendapatkan awal sebuah mula
Padahal sudah kubiak-biakkan lipatan hari
Diksi-diksi terpilih itu sudah terpateri kuat
Pada dinding galeri jiwa yang merdeka
Bermegah kokoh indah pesona
Metafor dan frasa mengaduk romansa

Sepuas decakan kekagumannya
Sepuas napas kuhela lepas bebas
Meniti keharuan kisah pinggan terbelah
Masygul melamun jauh kupuja langit
Nyaris mustahil puisi terangkai sempurna
Kehilangan paling merana, paling luka

Aksaranya pernah tak utuh terenggut angin
Tersangkut di dahan ranting patah
Terjun bebas terbawa kelok arus sungai
Terhambat di celah-celah batu kali
Teriakanku pilu menggema
Bergetar di bejana kopi pekatnya
Meraung di lembar puisi kesakitan

Menunda harap cemasku yang teronggok
Seseorang mengintai dari balik jendela
Persuaan terjawab di muara rindu
Menuntun aksara ringkihku pulang
Menggenggam trauma ketakutan
Merawat luka yang menghimpit
Kembali ke dalam peluk semesta
Menjalin diksi dari aksara rapi-rapi
Merebak indah syair kupu-kupu

(Jakarta, 07 Mei 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Satukan Panji Negeri

Kebekuan tampak pongah hilang budi
Enggan menatap air dan tanahmu berpijak
Sorotnya menghunjam jauh di cakrawala
Potret bayangan kejam dan tiran
Sembunyi dalam kepompong petaka

Tangan berurat ini tinggikan kepal
Meninju gahar mengoyak langit
Siapa makhluk kepala batu itu
Merasa istimewa selaksa dewa
Terdogma dari ketelanjuran yang fatal

Persekongkolan konspirasi bisik-bisik
Bocor gemanya di balik balai-balai megah
Terlindung kubu-kubu pagar betis
Menggunakan kekuatan oportunis
Menggunting dalam rapinya lipatan Pusaka Ibu

Ayo bergerak bersama putera-puteri Pertiwi
Jaga hutan, darat, gunung dan lautmu
Perjuangan hidup mati semata bela negeri
Pasang panji-panji di sepanjang garis pantai
Lisan sejarah seperti wangsit Sabda Palon
“Musuhmu memang saudaramu sendiri”
:
Lalu mengapa harus mati konyol
Perlukah merdeka diperjuangkan?

(Jakarta, 28 April 2019)

Rosa

Aku memilih meluluskanmu pergi tak kembali
Tak ada lagi peluk belaian tempat mengadu
Kereta kencana megah menggiringmu
Mempelai tercantik taman Firdaus
Anggun memeluk jalinan puspa
Tepat di atas bilur lukamu

Seret langkahku kembali gontai
Bila senyap wajahmu mengusik
Sendiri meratapi pilu
Mengenangmu sungguh dahsyat
Tanpa batas rindu doa terpanjat
Menyeret bilangan usia
Padamu, Rosa

(Jakarta, 28 April 2019)

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Puisi Bertasbih

Kau tahu sayang
Gelisahku samar senyap terbayar tuntas
Setelah kau rangkum perjumpaan sakral
Puisi dan harapan menari di langit saga
Menyatukan irama dan diksi sebagai nafas pelangi
Mengundang bidadari meluncur turun ke bumi
Mengenakan sandang rajut puisi kita
Selaras mengulas awas tatapan mata
Kemudian jatuh di dalam buaian jiwa
Larut bersama senja menjemput malam
Cahayanya melayang terbang
Merangkai tasbih bintang

(Jakarta, 22 April 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |