Opera Rajawali (2)

Riuh badai membelah samudera
Lelah ingin segera menepi di biduk senja
Kesadaran menuntunku pada hal yang pernah luput
Sekian lama tenggelam di pusaran waktu
Membawa pergi kisah hati tak menentu
Dua biduk karam terpisah gelombang
Bertolak belakang bertumbukan
Memutar sejurus arah tak beraturan
Terombang-ambing menunggu panduan
Rindu-rindu terkuburkan dalam isakan
Menuliskan pesan pilu di atas pasir
Cinta tak ingin kering di surut pantai

Puisi pun tersampaikanlah melalui angin
Ada sebuah lagu tua membuka langit
Menjelma kekuatan paling kudus
Kuat mendongkrak keterpurukan
Waktu mendamaikan kegamangan
Mengukuhkan sinergi dua jiwa beda
Bangkit menangkis badai celaka
Di gerbang dermaga cakrawala
Terbukalah sayap-sayap perisainya
Memeluk unggas mungil ringkih
Nyaris mati rindu dalam sekarat
:
Terbang tinggi sejauh tujuan
Memecah sunyi di langit buram
Ke atas surga paling bersih
Paling putih

(Jakarta, 12 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Hari Ini Tak Ada Puisi

Bergulung-gulung mega berarak hitam
Sepinggan doa lupa menyertai sarapan tadi
Tak disadari hari berjalan beberapa depa dari kira
Hampa menyelimuti sepanjang wajah kota
Lembab menyusup hingga ke beranda jiwa
Gerangan apakah belum ada sapa manja
Kekasih terlambat buatkan kopinya
Letih tertidur dilenakan prasangka buruk
Sisa percakapan makan malamnya

Betapakah engkau menimbang marah tanpa jeda
Sehingga keduanya asik menyimpan duga
Menanaknya hingga terendap seharian
Hangus sia-sia menyisakan sesalan
Kekasih tidak lena dalam tidurnya
Napas terakhirnya tertinggal di atas lampin
Tak ada belaian singgah membangunkannya
Membawa pergi puisi cinta yang belum tamat
Cinta telah abai berlumur curiga
Bunga terindah pun layu seketika

(Jakarta, 11 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Salahkan Anganku

Baru saja membuka pintu
Senyap lagi-lagi bimbang menyerbu
Entah, apa yang sedang kuburu
Duduk merenung menarik napas panjang
Perjalanan masih jauh di depan
Terawang kabur meraba tujuan
Andainya telinga-telinga jelas terpasang
Jeritanku terpasung sungsang
Terpaku dalam ruang angan
Banyak orang yang bernaung
Satu pun tak paham aku meraung
Istighfar lebih seperti air gunung
Kemudian maghrib membasuh peluhku
:
Aku sungguh butuh belaiMu…
Pantang patah asaku sungguh

(Jakarta, 09 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Catwalk

Koridornya berbeda, sama menawannya
Yang satu ndeso, lainnya metropolis
Perempuan dari kultur sosial berbeda
Melenggang santai dan gemulai
Kainnya seronok senada matahari
Menyapa ramah menebarkan senyum indah
Tinggalkan sesaat gundahnya di rumah
Menggenggam duri dan api pada basmallah

Muncul dari balik rumpun galangan sawah
Lainnya datang dari balik selasar panggung
Sekedar ikhtiar buat tutupi kebutuhan
Tersadar tuntutan hidup butuh disiasati
Menjawab langitNya semua pasti
Seterusnya mengepal harap mimpi
Pawon wajib ngebul oleh asap nasi
Bukannya jet pribadi

Terlahir dari rahim yang diberkati
Perempuan adalah ibu sejati negeri
Bumi tetap basah oleh asah asuh asih
Air susunya mengaliri negeri Loh Jinawi
Mendekap gelisahmu dalam pelukan panjang
Jemari lentiknya membelai keangkuhan malam
Bibirnya meniup lembut rangkaian mantra
Dari tubuhnya tercium wangi bunga
Tak sadari wujud hadirnya adalah dewi

(Jakarta, 09 Juli 2019)

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Mengawasi Senja

Senja…
Jangan melamun saja
Katakan bila kau cemburu
Pada kesik dan desir laut
Pada burung-burung pulang
Pada lintasan angin yang tersangkut
Di antara ketiak dan asamnya keringat
Sepasang bule mashyuk berpelukan
Tanpa puisi dan aksara
Melumat bayangan matahari
Ditelan waktu yang tanggung

Aiih Senja…
Kemarin lalu kau buat puisi renyah manja
Mengais kisah dari kamar pengantin tua
Bukan oleh uraian bilangan usia
Parut-parut luka tampak bertaut
Di selipan bacon sandwich penuh mentega
Bonus satu sloki sisa tegukan
Mencium aroma asmara anggur merah
Menyuguhkan tarian sakral
Tangis kehilangan
Keperawanan pecah
Keperjakaan jebol
Ada syukur yang timbul di lubuk sesal
:
Belum telanjur kasip, katamu…

(Jakarta, 8 Juli 2019)

Jum’at Berkah

Inilah Jum’at yang tengah berkemas
Lelaki-lelaki bersahaja bergegas
Tersenyum bercahaya melangkah perkasa
Mengucap salam tepat di gerbang kiblat
Engkau di sana pulakah, Rajawali?
Melepaskan sejenak taji perkasamu
Tunduk takzim pada PenciptaMu
Merendahkan permisi sejurus tanah
Ke sana engkau aku pun pasti
Sebanyak santun dan takut merajai
Berkhianat dan tergoda tak patuh lagi
Kembali kepada biru rindu
Seperti dipeluk ibu
Sejuk teduh

(Jakarta, 05 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Ode Alam Jagat

Menghampar perkasa di atas bumiku
Seri wajahnya membasah ranum hijau
Tergambar semburat alam bergairah
Tersiram azimat doa-doa cinta
Doa guyub syukur dari kaum taat
Kaum yang ikhlas merawat atas
Penciptaan karya Maha Dahsyat

Kepada langit, daratan dan segara
Segala insan bernaung di antaranya
Bertarung mencari sisi makna
Realita hidup bertumpu pada norma
Menyadari Engkau berada dimana
Meski tak nyata tapi lekat selamanya
Di relung-relung damai setiap jiwa

Aku penyair kecil sedang melilir
Ingin bangunkan ombak dan petir
Angin badai dan acak tarian pasir
Gunung subur dan liukan sawah kuning
Merunduk sujud memohon karomah
Keridhoan paling putih dari segala terputih
Ampunan bagi setiap khilafan
Terjaga selaras kebersamaan
:
TempatMu berada pada takhta kemuliaan
InsanMu bermunajat tunduk bersujud

(Jakarta, 04 Juli 2019)

 

| GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA | GALERI PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | DARI SAHABAT | DIARI YOEVITA |

Ihwal Awal Berakhir

Ini semesta punya siapa
Kata kitab-kitab bertuah
Terlahir dari semata cinta suci
Kehendak Sang Maha Kasih
Rahim dan titah paling mulia
Jangan sesekali ingkar menguji

Paras semesta menawan jelita
Terpilih lagi lainnya turut tercipta
Dititah sabda menggema
Mengisi menjaga dan merawatnya
Tanpa merajah cacat rupa si jelita
: “Kuberi dirimu berkah bilangan budi”

Kesempatan yang bernyawa terbatas jelas
Semesta masih bertahta tinggal tetap
Maha Daya Pemilik hidup dan mati umat
Yang akan menurunkan benda langit
Bersinggungan saling langgar bertabrakan
Jalan nafas dan suara senyap henti

(Jakarta, 27 Juni 2019)

Merambah Kesah

Sejentik bulu matanya meredup 
Lepas sehelai di atas bantal 
Sekelumit tayang bayang kekasih 
Melintas di balik kelambu biru
Ia mendengar konser hujan bersahutan
Gelisahnya berpacu digulung rindu
Menggedor dinding kehampaan
Dia mencari lagi puisinya yang hilang 
Mungkin disembunyikan kelelawar 
Di balik bekas gigitan manis buah ranum

Asik sendiri menghitung semut beriring
Lewat berbaris apik di muka radio tua
Kebetulan tengah siaran berharapan
Akankah ada kabar baik dibawa
“Permisi, numpang lewat…”
Itu saja sapanya, aduh, celaka!
Seketika nihil harapnya 
Kuncup yang mekar merunduk pasi
Beringsut lagi di depan cermin

Menyapa lesu kepada minyak wangi 
Gincu, pupur, pinsil alis dan celak mata
Tenggelam mematut tubuh dan rupa
Memulas seribu warna merona
Di atas wajah perempuan penjaga cinta
Sukma pesona dan gemulai irama
Meliukkan bokong dan pinggul 
Bibir basahnya merekah menganga
Menantang geliat rindunya
:
Hujan pun turun semakin menderas!

(Jakarta, 16 Juni 2019)