Pak Irawan Baca “Pengantin Puisi”

Sungguh suatu kehormatan buat saya, seorang Pak Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI, penyair senior, peraih Anugerah Buku Puisi terbaik Hari Puisi Indonesia 2017, berkenan ikut membacakan puisi saya pada acara peluncuran buku saya “Pengantin Puisi” di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (20/6/2019).

Terima kasih banyak Pak. Salam hormat dan takzim, sehat dan sukses selalu.

Penyair Perempuan Dinilai Jauh Lebih Liar

Sumber: Oke Zone – https://lifestyle.okezone.com/read/2019/06/22/612/2069611/penyair-perempuan-dinilai-jauh-lebih-liar

Penyair perempuan saat ini jauh lebih berani dalam menggunakan diksi yang liar juga dahsyat. Hal ini diungkapkan oleh Penyair Senior Remmy Novaris DM pada saat acara peluncuran buku Pengantin Puisi karya penyair perempuan Yoevita Soekotjo di Pusat Dokumentasi Sastra H.N. Jassin, Jakarta (20/6/2019).

Pendapat Remmy juga diamini oleh Sunu Wasono, Kaprodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI yang juga seorang penyair.

Sunu Wasano mengatakan, “Jumlah penyair perempuan di Indonesia saat ini tidak hanya bertambah banyak jumlah atau kuantitasnya. Melainkan juga kualitasnya. Mereka berani merespon berbagai kejadian dengan diksi-diksi yang tajam, bahkan gejala ini juga terlihat pada penyair-penyair perempuan yang baru muncul di panggung sastra Indonesia”.

Pengamat Ekonomi Kreatif dan Digital Riri Satria yang membantu Yoevita menyusun buku Pengantin Puisi mengatakan, dari puisi-puisinya, penyair Yoevita ini sangat kental nuansa ekspresif, kontemplatif-spiritual, serta pemberontakan atau rebelian.

Semua ini dapat diamati dalam posting yang ditayangkan Yoevita di akun Facebook-nya. “Memang banyak diksi memberontak”, demikian lanjut Riri.

Pendapat Riri ini disetujui oleh sahabat Yoevita, Nunung Noor El Niel, seorang penyair asal Bali. Nunung mengatakan, dalam beberapa hal, karakter puisi Yoevita mirip dengan dirinya, terutama ekspresif, reaktif, dan pemberontakan.

Penyair Yoevita lahir di Blitar tanggal 10 Februari 1967, aktif menulis puisi dan bermain teater sejak SMA, pernah bermukim di Medan (2007-2014) dan terus aktif di komunitas sastra dan teater di Taman Budaya Sumata Utara. Usai kembali ke Jakarta pada tahun 2014, ia aktif bersastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Pengantin Puisi adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berisi 96 puisi yang ditulis pada kurun tahun 2015-2019.

Pengamat Sastra Romo Wijaya mengatakan, kecenderungan sekarang orang menulis puisi sifatnya reaktif atau merespon suatu kejadian dengan cepat sehingga aspek perenungan berkurang. Akhirnya puisinya kurang menggigit.

Para penyair, ujar dia, perlu memperhatikan hal ini. Romo mengingatkan para penyair untuk merenung.

Dalam kesempatan yang sama, Penyair Yoevita menjelaskan, “Saya menulis puisi itu dengan spontan. Tidak selalu puisinya selesai saat itu juga, bisa jadi berhari-hari, dan ada yang direvisi. Satu hal yang pasti, menulis puisi itu ibarat dihipnotis untuk menuliskan kata dan kalimat, dan tentu saja sebagai respon terhadap suatu peristiwa.”

Pemilihan diksi, lanjutnya, sangat ditentukan oleh rasa yang muncul saat menulisnya. “Itu bisa jadi lembut, tetapi juga keras, bahkan kasar buat sebagian orang.”

Acara peluncuran buku penyair Yoevita Soekotjo ini diselenggarakan oleh komunitas Dapur Sastra Jakarta didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang dikemas dalam kegiatan Wisata Sastra. (MTA)

Penyair Yoevita Luncurkan ‘Pengantin Puisi’: Penyair Perempuan Jauh Lebih Berani

Sumber: Berita Buana – https://beritabuana.co/2019/06/22/penyair-yoevita-luncurkan-pengantin-puisi-penyair-perempuan-jauh-lebih-berani/

BERITABUANA.CO- “Penyair perempuan saat ini jauh lebih berani dalam menggunakan diksi yang liar dan dahsyat,” demikian ungkapan penyair senior Remmy Novaris DM pada saat acara peluncuran buku ‘Pengantin Puisi’ karya penyair perempuan Yoevita Soekotjo di Pusat Dokumentasi Sastra H.N. Jassin, Jakarta (20/6/2019).

Pendapat Remmy juga diamini oleh Sunu Wasono, Kepala Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI yang juga seorang penyair.

Sunu Wasano mengatakan, jumlah penyair perempuan di Indonesia saat ini tidak hanya bertambah banyak jumlah atau kuantitasnya, melainkan juga kualitasnya. Mereka, lanjutnya berani merespon berbagai kejadian dengan diksi-diksi yang tajam, bahkan gejala ini juga terlihat pada penyair-penyair perempuan yang baru muncul di panggung sastra Indonesia.

Sementara itu pengamat ekonomi kreatif dan digital, Riri Satria, yang banyak membantu Yoevita menyusun buku ‘Pengantin Puisi’ mengatakan bahwa dari puisi-puisinya, penyair Yoevita ini sangat kental nuansa ekspresif, kontemplatif-spiritual, serta pemberontakan atau rebelian.

Semua ini dapat diamati dalam posting yang ditayangkan Yoevita di akun Facebook-nya. “Memang banyak diksi memberontak,” demikian lanjut Riri. Pendapat Riri ini disetujui oleh sahabat Yoevita, Nunung Noor El Niel, seorang penyair asal Bali.

Nunung bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa hal, karakter puisi Yoevita mirip dengan dirinya, terutama ekspresif, reaktif, dan pemberontakan.

Diketahui, penyair Yoevita lahir di Blitar tanggal 10 Februari 1967, aktif menulis puisi dan bermain teater sejak SMA, pernah bermukim di Medan (2007-2014) dan terus aktif di komunitas sastra dan teater di Taman Budaya Sumata Utara, dan setelah kembali ke Jakarta pada tahun 2014, aktif bersastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

‘Pengantin Puisi’ adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berisi 96 puisi yang ditulis pada kurun tahun 2015-2019.

Sebenarnya sudah banyak puisi yang ditulis penyair Yoevita sebelum tahun 2015, tetapi semua dokumennya hilang karena tidak ada backup. Ini yang menjadi sorotan Riri Satria, yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

“Sudah saatnya para penulis juga menerapkan manajemen penyimpanan karya yang baik, supaya jangan sampai hilang. Sayang sekali jika kaya yang sudah ditulis selama bertahun-tahun hilang begitu saja,” lanjut Riri.

“Buat seorang penyair, karya puisi mereka itu adalah perjalanan sejarah yang sudah melewati masa kontemplasi,” demikian Sunu Wasono menimpali tentang pentingnya penyimpanan karya yang baik, benar, dan aman.

Sementara itu, Romo Wijaya, seorang pengamat sastra yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa kecenderungan sekarang orang menulis puisi sifatnya reaktif atau merespon suatu kejadian dengan cepat, sehingga aspek perenungan berkurang, dan akhirnya puisinya kurang menggigit. Para penyair perlu memperhatikan hal ini,” demikian Romo Wijaya mengingatkan semua hadirin yang sebagian besar adalah penyair.

Spontan

Bagaimanakah proses kreatif terjadi saat menulis puisi? Penyair Yoevita menjelaskan, “Saya menulis puisi itu dengan spontan. Tidak selalu puisinya selesai saat itu juga, bisa jadi berhari-hari, dan ada yang direvisi. Satu hal yang pasti, menulis puisi itu ibarat dihipnotis untuk menuliskan kata dan kalimat, dan tentu saja sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Pemilihan diksi sangat ditentukan oleh rasa yang muncul saat menulisnya, dan itu bisa jadi lembut, tetapi juga keras, bahkan kasar buat sebagian orang,”.

Acara peluncuran buku penyair Yoevita Soekotjo ini diselenggarakan oleh komunitas Dapur Sastra Jakarta didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang dikemas dalam kegiatan ‘Wisata Sastra’.

Diskusi membahas buku “Pengantin Puisi”, Nunung Noor El Niel (penyair Bali), Riri Satria (pengamat ekonomi kreatif dan digital), Sunu Wasono (Kaprodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), penyair Yoevita Soekotjo, serta Rissa Churria (pemandu diskusi). (Mar)

Gita Baca Puisiku

Momen yang paling membahagiakan buat saya saat acara peluncuran buku saya “Pengantin Puisi” di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (20/6/2019) adalah ketika putri saya semata wayang Munira Gita Utami tampil maju ke depan dan ikut membacakan puisi. Kau adalah puisiku yang paling indah, Nak. Semoga kau bangga dengan mamamu ini. Terima kasih banyak ya, Nak.

“Siraman” Pengantin Puisi

Ini acara seru-seruan!

Siraman menjelang peluncuran buku saya “Pengantin Puisi” nanti tanggal 20 Juni 2019. Katanya pengantin itu mesti ada acara siraman.

Mohon do’a restunya semua.

Terima kasih sahabatku semua, Evie yang sudah menyediakan tempat di rumahnya, lalu Dema, Ayu, dan Ghia. Ini namanya kelompok Bidadari lho.

Love you all, girls!.

Tapi pengantin satunya lagi mana ya?

Ini pengumuman sekaligus undangan terbuka untuk peluncuran buku “Pengantin Puisi”

 

| “PENGANTIN PUISI” DI GA208 | “PENGANTIN PUIS”I SERTA “SILUET, SENJA, DAN JINGGA” | PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” |

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Merambah Kesah

Sejentik bulu matanya meredup 
Lepas sehelai di atas bantal 
Sekelumit tayang bayang kekasih 
Melintas di balik kelambu biru
Ia mendengar konser hujan bersahutan
Gelisahnya berpacu digulung rindu
Menggedor dinding kehampaan
Dia mencari lagi puisinya yang hilang 
Mungkin disembunyikan kelelawar 
Di balik bekas gigitan manis buah ranum

Asik sendiri menghitung semut beriring
Lewat berbaris apik di muka radio tua
Kebetulan tengah siaran berharapan
Akankah ada kabar baik dibawa
“Permisi, numpang lewat…”
Itu saja sapanya, aduh, celaka!
Seketika nihil harapnya 
Kuncup yang mekar merunduk pasi
Beringsut lagi di depan cermin

Menyapa lesu kepada minyak wangi 
Gincu, pupur, pinsil alis dan celak mata
Tenggelam mematut tubuh dan rupa
Memulas seribu warna merona
Di atas wajah perempuan penjaga cinta
Sukma pesona dan gemulai irama
Meliukkan bokong dan pinggul 
Bibir basahnya merekah menganga
Menantang geliat rindunya
:
Hujan pun turun semakin menderas!

(Jakarta, 16 Juni 2019)

Dermaga Terakhir

Aku kembali
Menunggumu di batas rindu
Terlalu letih menekan hasrat ingin bertemu
Membawa sebongkah luka lama
Duduk terdiam di bawah langit malam
Menghitung gemintang bercanda girang
Terbang random berserakan
Mereka merayu bulan
Aku cemburu sendirian
Pilu memanggilmu pujaan
Menabrak angin berbenturan
Menampar lukaku bertubi-tubi
:
“Gerangan tuan…, engkau dimanakah?!”

(Jakarta, 14 Juni 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

 

“Pengantin Puisi” di GA208

Padahal belum diluncurkan, eh si “Pengantin Puisi” sudah terbang naik Garuda GA 208 CGK-JOG, 13 Juni 2019.

Selamat jalan-jalan ya. Padahal penulisnya gak ikutan …

| PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | “PENGANTIN PUISI” SERTA “SILUET, SENJA, DAN JINGGA” |

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Epilog dari Nyai Nunung

EPILOG (untuk buku “Pengantin Puisi” Yoevita)
(Nunung Noor El Niel)

Saya mengenal Yoevita Soekotjo dari pertemanan di FB. Pertemanan itu membuat kami saling menyapa. Bahkan kami bercanda saling berkomentar. Apalagi setelah ia bergabung di grup Dapur Sastra Jakarta dan publikasikan karyanya di sana. Saya sering memberikan komentar- komentar mengenai penulisannya. Dari grup itu saya semakin kenal Yoevita yang selalu bersikap terbuka, jika karyanya dibicarakan di grup itu. Ia selalu menerima pendapat atau kritik dari siapa saja.

Pada beberapa kesempatan kegiatan Dapur Sastra Jakarta (DSJ), saya ke Jakarta, dan bertemu pertamakali dengannya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Pertemuan kami pun semakin akrab. Bahkan tidak jarang kami nongkrong bareng. Saya pun semakin mengenal pribadinya dengan baik. Apalagi pada beberapa kesempatan acara yang diselenggarakan DSJ di Bali dan juga di Padang, membuat kami lebih akrab lagi. Perjalanan-perajalanan panjang itu membuat kami lebih terbuka mengenai masalah-masalah pribadi, keluarga, anak dan apa saja yang berhubungan dengan persoalan perempuan. Tidak jarang juga mendiskusikan hasil karya kami masing- masing.

Yang membuat kami seperti senasib dan sepenanggungan adalah, karena kami sama-sama memiliki satu anak. Bagaimana kami harus tetap survive dalam kehidupan kami untuk tetap bisa mandiri. Namun pada dasarnya, kami sama-sama orang yang cukup keras dalam berprinsip. Kami hampir mempunyai pola yang sama dalam mengambil keputusan dan bertindak tapi tidak tertutup menerima pendapat, yang tentu saja dapat kami terima secara rasional.

Demikian pula halnya dengan kerja kreatif kami. Seperti yang saya katakan tadi di atas, dalam soal berkaya, ketika ia ingin mengekspresikan kemaharahannya di dalam karya, maka ia akan mengatakan hal itu apa adanya. Tetapi tentu saja tidak mengabaikan persoalan-persoalan seni sastra dalam karyanya. Sebuah pertanyaan panjang sempat tersimpan dalam benak dan perasaan saya, jika Yoevita mempublikasikan karyanya di statusnya atau di grup DSJ. Kapan ia mau mengumpulkan karya-karyanya itu kemudian diterbitkan. Sesekali saya mencoba menyinggung di inbox FB-nya secara pribadi, tetapi ia selalu menjawab santai. “Tenang sajalah, lihat saja nanti, pasti terbit” katanya selalu dengan canda dan tawa yang lepas.

Ternyata kemudian, Yoevita akhirnya mewujudkan apa yang menjadi pertanyaan saya itu, berkat dorongan beberapa teman dekat. Judul dari kumpulan puisinya itu membuat saya sedikit tertegun karena pemilihan diksinya begitu kuat: Pengantin Puisi. Saya pun diberi kehormatan untuk memberikan epilog buku kumpulan puisi itu. Ini tentu saja suatu surprise bukan saja buat saya tapi juga teman-teman dan pencinta sastra. Semoga, buku Pengantin Puisi ini bermanfaaat bagi kita semua, agar kreativitas kita juga ikut selalu terjaga.

Sekali lagi selamat untuk Yoevita.

— Nunung Noor El Niel, penyair tinggal di Bali, salah satu pengurus Dapur Sastra Jakarta.

 

| PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA |