Penyair Yoevita Luncurkan ‘Pengantin Puisi’: Penyair Perempuan Jauh Lebih Berani

Sumber: Berita Buana – https://beritabuana.co/2019/06/22/penyair-yoevita-luncurkan-pengantin-puisi-penyair-perempuan-jauh-lebih-berani/

BERITABUANA.CO- “Penyair perempuan saat ini jauh lebih berani dalam menggunakan diksi yang liar dan dahsyat,” demikian ungkapan penyair senior Remmy Novaris DM pada saat acara peluncuran buku ‘Pengantin Puisi’ karya penyair perempuan Yoevita Soekotjo di Pusat Dokumentasi Sastra H.N. Jassin, Jakarta (20/6/2019).

Pendapat Remmy juga diamini oleh Sunu Wasono, Kepala Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Mustari Irawan, Kepala Arsip Nasional RI yang juga seorang penyair.

Sunu Wasano mengatakan, jumlah penyair perempuan di Indonesia saat ini tidak hanya bertambah banyak jumlah atau kuantitasnya, melainkan juga kualitasnya. Mereka, lanjutnya berani merespon berbagai kejadian dengan diksi-diksi yang tajam, bahkan gejala ini juga terlihat pada penyair-penyair perempuan yang baru muncul di panggung sastra Indonesia.

Sementara itu pengamat ekonomi kreatif dan digital, Riri Satria, yang banyak membantu Yoevita menyusun buku ‘Pengantin Puisi’ mengatakan bahwa dari puisi-puisinya, penyair Yoevita ini sangat kental nuansa ekspresif, kontemplatif-spiritual, serta pemberontakan atau rebelian.

Semua ini dapat diamati dalam posting yang ditayangkan Yoevita di akun Facebook-nya. “Memang banyak diksi memberontak,” demikian lanjut Riri. Pendapat Riri ini disetujui oleh sahabat Yoevita, Nunung Noor El Niel, seorang penyair asal Bali.

Nunung bahkan mengatakan bahwa dalam beberapa hal, karakter puisi Yoevita mirip dengan dirinya, terutama ekspresif, reaktif, dan pemberontakan.

Diketahui, penyair Yoevita lahir di Blitar tanggal 10 Februari 1967, aktif menulis puisi dan bermain teater sejak SMA, pernah bermukim di Medan (2007-2014) dan terus aktif di komunitas sastra dan teater di Taman Budaya Sumata Utara, dan setelah kembali ke Jakarta pada tahun 2014, aktif bersastra di komunitas Dapur Sastra Jakarta.

‘Pengantin Puisi’ adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang pertama, berisi 96 puisi yang ditulis pada kurun tahun 2015-2019.

Sebenarnya sudah banyak puisi yang ditulis penyair Yoevita sebelum tahun 2015, tetapi semua dokumennya hilang karena tidak ada backup. Ini yang menjadi sorotan Riri Satria, yang juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

“Sudah saatnya para penulis juga menerapkan manajemen penyimpanan karya yang baik, supaya jangan sampai hilang. Sayang sekali jika kaya yang sudah ditulis selama bertahun-tahun hilang begitu saja,” lanjut Riri.

“Buat seorang penyair, karya puisi mereka itu adalah perjalanan sejarah yang sudah melewati masa kontemplasi,” demikian Sunu Wasono menimpali tentang pentingnya penyimpanan karya yang baik, benar, dan aman.

Sementara itu, Romo Wijaya, seorang pengamat sastra yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa kecenderungan sekarang orang menulis puisi sifatnya reaktif atau merespon suatu kejadian dengan cepat, sehingga aspek perenungan berkurang, dan akhirnya puisinya kurang menggigit. Para penyair perlu memperhatikan hal ini,” demikian Romo Wijaya mengingatkan semua hadirin yang sebagian besar adalah penyair.

Spontan

Bagaimanakah proses kreatif terjadi saat menulis puisi? Penyair Yoevita menjelaskan, “Saya menulis puisi itu dengan spontan. Tidak selalu puisinya selesai saat itu juga, bisa jadi berhari-hari, dan ada yang direvisi. Satu hal yang pasti, menulis puisi itu ibarat dihipnotis untuk menuliskan kata dan kalimat, dan tentu saja sebagai respon terhadap suatu peristiwa. Pemilihan diksi sangat ditentukan oleh rasa yang muncul saat menulisnya, dan itu bisa jadi lembut, tetapi juga keras, bahkan kasar buat sebagian orang,”.

Acara peluncuran buku penyair Yoevita Soekotjo ini diselenggarakan oleh komunitas Dapur Sastra Jakarta didukung oleh Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yang dikemas dalam kegiatan ‘Wisata Sastra’.

Diskusi membahas buku “Pengantin Puisi”, Nunung Noor El Niel (penyair Bali), Riri Satria (pengamat ekonomi kreatif dan digital), Sunu Wasono (Kaprodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI), penyair Yoevita Soekotjo, serta Rissa Churria (pemandu diskusi). (Mar)

Gita Baca Puisiku

Momen yang paling membahagiakan buat saya saat acara peluncuran buku saya “Pengantin Puisi” di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (20/6/2019) adalah ketika putri saya semata wayang Munira Gita Utami tampil maju ke depan dan ikut membacakan puisi. Kau adalah puisiku yang paling indah, Nak. Semoga kau bangga dengan mamamu ini. Terima kasih banyak ya, Nak.

“Siraman” Pengantin Puisi

Ini acara seru-seruan!

Siraman menjelang peluncuran buku saya “Pengantin Puisi” nanti tanggal 20 Juni 2019. Katanya pengantin itu mesti ada acara siraman.

Mohon do’a restunya semua.

Terima kasih sahabatku semua, Evie yang sudah menyediakan tempat di rumahnya, lalu Dema, Ayu, dan Ghia. Ini namanya kelompok Bidadari lho.

Love you all, girls!.

Tapi pengantin satunya lagi mana ya?

Ini pengumuman sekaligus undangan terbuka untuk peluncuran buku “Pengantin Puisi”

 

| “PENGANTIN PUISI” DI GA208 | “PENGANTIN PUIS”I SERTA “SILUET, SENJA, DAN JINGGA” | PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” |

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Merambah Kesah

Sejentik bulu matanya meredup 
Lepas sehelai di atas bantal 
Sekelumit tayang bayang kekasih 
Melintas di balik kelambu biru
Ia mendengar konser hujan bersahutan
Gelisahnya berpacu digulung rindu
Menggedor dinding kehampaan
Dia mencari lagi puisinya yang hilang 
Mungkin disembunyikan kelelawar 
Di balik bekas gigitan manis buah ranum

Asik sendiri menghitung semut beriring
Lewat berbaris apik di muka radio tua
Kebetulan tengah siaran berharapan
Akankah ada kabar baik dibawa
“Permisi, numpang lewat…”
Itu saja sapanya, aduh, celaka!
Seketika nihil harapnya 
Kuncup yang mekar merunduk pasi
Beringsut lagi di depan cermin

Menyapa lesu kepada minyak wangi 
Gincu, pupur, pinsil alis dan celak mata
Tenggelam mematut tubuh dan rupa
Memulas seribu warna merona
Di atas wajah perempuan penjaga cinta
Sukma pesona dan gemulai irama
Meliukkan bokong dan pinggul 
Bibir basahnya merekah menganga
Menantang geliat rindunya
:
Hujan pun turun semakin menderas!

(Jakarta, 16 Juni 2019)

Dermaga Terakhir

Aku kembali
Menunggumu di batas rindu
Terlalu letih menekan hasrat ingin bertemu
Membawa sebongkah luka lama
Duduk terdiam di bawah langit malam
Menghitung gemintang bercanda girang
Terbang random berserakan
Mereka merayu bulan
Aku cemburu sendirian
Pilu memanggilmu pujaan
Menabrak angin berbenturan
Menampar lukaku bertubi-tubi
:
“Gerangan tuan…, engkau dimanakah?!”

(Jakarta, 14 Juni 2019)

 

 

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

 

“Pengantin Puisi” di GA208

Padahal belum diluncurkan, eh si “Pengantin Puisi” sudah terbang naik Garuda GA 208 CGK-JOG, 13 Juni 2019.

Selamat jalan-jalan ya. Padahal penulisnya gak ikutan …

| PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | “PENGANTIN PUISI” SERTA “SILUET, SENJA, DAN JINGGA” |

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |

Epilog dari Nyai Nunung

EPILOG (untuk buku “Pengantin Puisi” Yoevita)
(Nunung Noor El Niel)

Saya mengenal Yoevita Soekotjo dari pertemanan di FB. Pertemanan itu membuat kami saling menyapa. Bahkan kami bercanda saling berkomentar. Apalagi setelah ia bergabung di grup Dapur Sastra Jakarta dan publikasikan karyanya di sana. Saya sering memberikan komentar- komentar mengenai penulisannya. Dari grup itu saya semakin kenal Yoevita yang selalu bersikap terbuka, jika karyanya dibicarakan di grup itu. Ia selalu menerima pendapat atau kritik dari siapa saja.

Pada beberapa kesempatan kegiatan Dapur Sastra Jakarta (DSJ), saya ke Jakarta, dan bertemu pertamakali dengannya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Pertemuan kami pun semakin akrab. Bahkan tidak jarang kami nongkrong bareng. Saya pun semakin mengenal pribadinya dengan baik. Apalagi pada beberapa kesempatan acara yang diselenggarakan DSJ di Bali dan juga di Padang, membuat kami lebih akrab lagi. Perjalanan-perajalanan panjang itu membuat kami lebih terbuka mengenai masalah-masalah pribadi, keluarga, anak dan apa saja yang berhubungan dengan persoalan perempuan. Tidak jarang juga mendiskusikan hasil karya kami masing- masing.

Yang membuat kami seperti senasib dan sepenanggungan adalah, karena kami sama-sama memiliki satu anak. Bagaimana kami harus tetap survive dalam kehidupan kami untuk tetap bisa mandiri. Namun pada dasarnya, kami sama-sama orang yang cukup keras dalam berprinsip. Kami hampir mempunyai pola yang sama dalam mengambil keputusan dan bertindak tapi tidak tertutup menerima pendapat, yang tentu saja dapat kami terima secara rasional.

Demikian pula halnya dengan kerja kreatif kami. Seperti yang saya katakan tadi di atas, dalam soal berkaya, ketika ia ingin mengekspresikan kemaharahannya di dalam karya, maka ia akan mengatakan hal itu apa adanya. Tetapi tentu saja tidak mengabaikan persoalan-persoalan seni sastra dalam karyanya. Sebuah pertanyaan panjang sempat tersimpan dalam benak dan perasaan saya, jika Yoevita mempublikasikan karyanya di statusnya atau di grup DSJ. Kapan ia mau mengumpulkan karya-karyanya itu kemudian diterbitkan. Sesekali saya mencoba menyinggung di inbox FB-nya secara pribadi, tetapi ia selalu menjawab santai. “Tenang sajalah, lihat saja nanti, pasti terbit” katanya selalu dengan canda dan tawa yang lepas.

Ternyata kemudian, Yoevita akhirnya mewujudkan apa yang menjadi pertanyaan saya itu, berkat dorongan beberapa teman dekat. Judul dari kumpulan puisinya itu membuat saya sedikit tertegun karena pemilihan diksinya begitu kuat: Pengantin Puisi. Saya pun diberi kehormatan untuk memberikan epilog buku kumpulan puisi itu. Ini tentu saja suatu surprise bukan saja buat saya tapi juga teman-teman dan pencinta sastra. Semoga, buku Pengantin Puisi ini bermanfaaat bagi kita semua, agar kreativitas kita juga ikut selalu terjaga.

Sekali lagi selamat untuk Yoevita.

— Nunung Noor El Niel, penyair tinggal di Bali, salah satu pengurus Dapur Sastra Jakarta.

 

| PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA | KUMPULAN PUISI YOEVITA |

Prolog dari Uda Riri

YOEVITA DAN PUISINYA
– Prolog untuk buku “Pengantin Puisi” Yoevita –

(Riri Satria)

Ketika Yoevita meminta saya untuk menuliskan prolog untuk buku puisinya yang pertama ini, saya mengatakan bahwa saya tidak akan mengulas puisi-puisi karyanya. Saya memilih untuk menuliskan pengantar untuk pembaca sebelum menikmati satu per satu puisi di buku ini. Ulasan tentang puisi Yoevita tentu lebih layak dilakukan oleh ahli sastra dan saya bukanlah ahlinya.

Saya mencoba untuk mengingat, kapan saya mengenal Yoevita untuk pertama kali? Melalui jejak digital akhirnya saya ingat, yaitu bulan Oktober 2013 melalui Facebook. Tetapi saat itu, interaksi kami di Facebook nyaris tidak ada, selain saling memberi “like” untuk posting masing-masing. Saya ingat, Yoevita rajin menulis puisi di Facebook dan beberapa puisinya dimuat pada beberapa media daring.

Melalui Facebook saya tahu saat itu Yoevita tinggal di Medan, aktif berteater dan berpuisi di Taman Budaya Sumatra Utara (TBSU) serta aktivitas menyanyi di berbagai acara. Interaksi atau tegur sapa saya dan Yoevita di Facebook baru terjadi bulan Agustus 2014. Saat itu Yoevita sudah pindah ke Jakarta.

Pada tanggal 22 Februari 2015, saya bertemu Yoevita untuk pertama kali di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat itu sambil ngopi santai sore hari di Warung Bagong, tempat berkumpul Dapur Sastra Jakarta (DSJ) yang sekarang sudah dibongkar, Yoevita banyak bercerita tentang kiprahnya di Medan, terutama kegiatan berteater dan bersastra (terutama puisi) di TBSU. Saya membiarkan Mbak Yoe (demikian saya memanggilnya saat itu) banyak bercerita. Lalu dia juga bercerita tentang makna puisi dalam hidupnya, dan keinginannya untuk memiliki sebuah buku puisi sendiri.

Jadi, buku puisi yang sedang kita baca saat ini adalah buku puisi Yoevita yang pertama, yang sudah dicita-citakan sejak lama, tepatnya awal tahun 2015. Empat tahun kemudian, baru terwujud. Mungkin ini dapat dikatakan sebagai “skripsi” bagi Yoevita untuk “diwisuda” sebagai penyair.

Namun sayang sekali, puisi-puisi tulisan Yoevita sebelum tahun 2015 banyak yang hilang, berbarengan dengan “hilangnya” akun Facebook milik Yoevita yang lama karena sesuatu hal tidak bisa dipergunakan lagi. Banyak sekali puisi ditulis di akun lama tersebut dan tidak ada backup-nya. Hanya ada beberapa puisi yang masih “diselamatkan” karena ditulis di kertas serta yang pernah dimuat di media daring.

Pada awal tahun 2019 ini, Yoevita meminta bantuan saya untuk menelusuri jagat internet melalui search engine Google dan metode archive lainnya untuk melacak keberadaan puisi-puisinya yang ditulis sebelum tahun 2015. Hasilnya, tidak banyak yang bisa diperoleh. Sayang sekali. Padahal Yoevita sudah menulis puisi di Facebook sejak tahun 2011. Sementara itu, puisi yang dibuat sebelum tahun 2011 banyak ditulis di kertas dan buku catatan, hampir semuanya hilang karena beberapa kali pindah tempat tinggal di Medan. Baca lebih lanjut

“Pengantin Puisi” serta “Siluet, Senja, dan Jingga”

Berbarengan dengan terbitnya buku saya “Pengantin Puisi”, juga terbit buku puisi ketiga Uda Riri Satria yang berjudul “Siluet, Senja, dan Jingga“.

Uda Riri Satria adalah salah satu sosok yang berperan terbitnya buku puisi saya yang pertama ini, “Pengantin Puisi“, dan juga memberikan kata pengantar atau prolog untuk buku tersebut

Siapakah Riri Satria?

Dia lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970 dan mulai menulis puisi sejak SMP berlanjut di SMA di kota kelahirannya.

Setelah diterima kuliah di Universitas Indonesia (program studi ilmu komputer) pada tahun 1988, dan perjalanan hidup yang jauh dari sastra atau pun seni pada umumnya menyebabkan dia vakum menulis puisi selama 19 tahun antara tahun 1988 sampai 2007.

Buku karyanya yang pertama adalah sebuah buku non-sastra, berjudul “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (Pustaka Quantum, 2003, ISBN 979-3204-0). Buku ini merupakan buku kompilasi kumpulan tulisannya berbentuk esai tentang manajemen bisnis dan ekonomi pada harian Republika pada kurun waktu tahun 1999-2001.

Buku puisi pertamanya adalah “Jendela” (Teras Budaya Jakarta, 2016, ISBN 978-602-1226-59-9) yang merupakan kumpulan puisi yang ditulis pada kurun tahun 2007-2016. Lalu buku puisi kedua adalah “Winter in Paris” (Teras Budaya Jakarta, 2017, ISBN 978-602-1225-87-2) yang merupakan kumpulan puisi dalam Bahasa Inggris yang ditulis selama musim dingin di kota Paris, Perancis, bulan Desember 2016. Buku ini diluncurkan pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017, di Ubud, Bali, tanggal 26 Oktober 2017.

Di samping kedua buku tersebut, berbagai puisinya juga diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama yaitu “Fotamorgana” (Teras Budaya Jakarta, 2014), “Puisi Menolak Korupsi 4” (Forum Sastra Surakarta, 2015), “Palagan Sastra” (Teras Budaya Jakarta, 2016), “Setelah 67 Tahun di Karet: Mengenang Chairil Anwar” (Diandra Kreatif Jogjakarta, 2016), “Memo Anti Terorisme”” (Forum Sastra Surakarta, 2016), Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak” (Forum Sastra Surakarta, 2016), “Seberkas Cinta” (Digna Pustaka Jogjakarta, 2016), “Puisi Menolak Korupsi 6” (Forum Sastra Surakarta, 2017), “Kita adalah Indonesia, Antologi Puisi Penyair Penjaga Kebhinnekaan” (Taresi, Jakarta, 2017), “The First Drop of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017” (Wahana Resolusi Yogyakarta, 2017), “Ketika Kata Berlipat Makna” (Teras Budaya Jakarta, 2018), “Epitaf Kota Hujan, Antologi Puisi Temu Penyair Asia Tenggara 2018” (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang), “Jejak Cinta di Bumi Raflesia” (Spirit Kita, 2018), “A Skyful of Rain: Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018” (Wahana Resolusi Yogyakarta, 2018), “Sebutir Garam di Secangkir Air” (Teras Budaya Jakarta, 2019), “Aku Menuju-Mu: Mengenang Penyair Dewi Salistiawati” (Teras Budaya Jakarta 2019), serta esai pada buku “Bunga Rampai Puisi Menolak Korupsi, Bergerak dengan Nurani” (Forum Sastra Surakarta, 2017).

Saat ini dia ikut mengelola komunitas Dapur Sastra Jakarta (DSJ), serta komunitas Sastra Bumi Mandeh (SBM) di kampung halamannya, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Profesinya sehari-harinya memang jauh dari dunia sastra, yaitu sebagai Chief Executive Officer (CEO) sekaligus principal consultant pada Value Alignment Group, serta dosen program Magister Teknologi Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Latar belakang pendidikannya adalah Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan saat ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School of Business, Paris, Perancis.

Sebagai seorang yang berkutat dalam dunia teknologi informasi, penelitian, matematika, statistik, dan sekaligus penulis puisi, Uda Riri Satria percaya bahwa kode program komputer, persamaan matematika, dan puisi memiliki suatu kesamaan secara prinsip. Mereka menggambarkan sesuatu yang kompleks dalam wujud simbol-simbol yang sederhana.

Selamat dan terima kasih untuk Uda Riri.

Semoga kedua buku puisi ini memberikan sedikit kontribusi untuk dunia sastra Indonesia.

Salam puisi.

 

 

| “PENGANTIN PUISI” DI GA208 | PELUNCURAN BUKU “PENGANTIN PUISI” | PROLOG DARI UDA RIRI |

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |

| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |