Bu
Dulu kita biasa bercerita bersama
Menjelang larut malam
Tentang bagaimana rasanya jadi perempuan dewasa
Mengapa mereka jadi tampak begitu cantik?
Mengapa mereka jadi pandai mematut diri?
Bagaimana rasanya saat ia jatuh cinta kepada seorang pria?
Mengapa mereka tak bisa pindah ke lain hati?
Kemudian memutuskan akad hidup bahagia bersamanya
Dan Ibu
Kupandangi jelas wajahmu dari bawah runcing dagumu
siluet senja dan cahaya wanita terindah
Selalu saja menjelaskan tentang hal manis
Indah seperti taman bunga di surga.
Hingga aku sungguh lupa bertanya :
“Apakah cinta juga sanggup melukai?
Seperti apa rasa sakitnya?”
Dan ibu
Saat kau tinggalkanku di usia belia
Aku terbawa waktu ke alam kisah rindu
Pernak-pernik warna hidupku
Pernah ada dalam benakku dulu
Wanginya singgah di kalbu seperti ceritamu
Menemukan jodoh rupawan sama persisnya dongengmu
Merawat cinta yang kupunya
Tanpa sedikit pun isyarat celaka
Tahukah ibu
Kisahmu buntu dan rancu di titik itu
Tumbuhan yang kurawat itu kering lesu
Cinta tak lagi bersamaku
Aku terdiam kelu membisu
Ada detak yang nyaris tak berdenyut
Sakitnya sebagai teriris sembilu
Meleleh di atas pusaramu
Duuhh…Ibu…
Begini luka itu kau simpan dulu
Tak pernah engkau rasakan
Tak sedikit pun engkau katakan
Tapi aku menemukan…
Air matamu
Air mataku
(Jakarta, 03 Januari 2019)

| KUMPULAN PUISI YOEVITA LAINNYA |
| BIODATA YOEVITA SOEKOTJO | GALERI YOEVITA 2019 | GALERI PANGGUNG YOEVITA |